ACEH UTARA - Ribuan hektar tanaman pisang di Kabupaten Aceh Utara terserang penyakit membusuk. Belum ada solusi untuk menyelamatkan berbagai jenis pisang dari penyakit ini, bahkan Dinas Pertanian dan Pertenakan (Distanak) Kabupaten Aceh Utara menganggap itu masalah nasional yang sulit diatasi.
“Sudah terdeteksi penyakit itu disebut Pseudomonas Solaracearum yang berasal dari jamur dan mengancam komoditi pisang. Itu merupakan permasalahan nasional yang belum bisa diatasi,” kata kepala Dinas Pertanian, Muktaruddin kepada Bisnis Aceh, hari ini Selasa, di Lhokseumawe.
Keterangan yang diperoleh media ini, ribuan hektar kebun pisang milik masyarakat di kawasan Aceh Utara, seperti Di Kecamatan Langkahan dan Kecamatan Tanah Jambo Aye sudah sejak empat tahun silam terserang penyakit yang mengerikan itu. Dampaknya, dimana dari batang hingga pembuahan terlihat membusuk disertai warna hitam. Akibatnya, jumlah komoditi pisang di kawasan itu menurun drastis.
Dinas Pertanian sendiri juga sudah membenarkan bahwa berkurangnya jumlah komoditi pisang di kabupaten itu jelas disebabkan oleh virus Pseudomonas Solaracearum. “Meskipun penyakit sudah terdeteksi, tetapi belum ada obat untuk penyakit pisang ini. Kita juga butuh bantuan dalam menangani masalah ini," jelas Muktaruddin.
Oleh karena itu, fenomena kelangkaan pisang tersebut membuat pemasokan berbagai jenis pisang dari daerah semakin mengurang. Apalagi konsumsi pisang saat ini menjadi bahan yang langka ditengah-tengah masyarakat tani.
Gejolak yang terjadi di dalam masyarakat terkait hasil pertanian ini, pemerintah diminta agar segera mencari solusi penangkalannya.
Amatan Bisnis Aceh, saat ini batang pisang yang sebelumnya menghijau di ladang perkebunan warga, kini menjadi sepi dari komoditi itu. Ribuan hektar lahan yang dulunya dipenuhi batang pisang, sekarang menjadi lahan yang dialihkan ke perkebunan lainnya, bahkan yang lebih memperihatinkan lagi, sebagian besar kebun warga yang tidak memiliki modal terbengkalai dan menjadi lahan tidur.
“Kita tidak mampu berkebun, jika pisang yang kita tanam, maka waktu dipanen isi buahnya bagaikan bangkai, kalau pinangpun tidak sesuai antara upaya dan penghasilan kita,” ujar Azhari, warga Kampung Tanjong Dalam, Kecamatan Langkahan, Aceh Utara.
Azhari mengatakan, kebutuhan pisang tidak hanya kebutuhan biasa, namun pisang merupkan cindera mata, banyaknya warga yang menuturkan keputus-asaannya, tapi tidak bisa melakukan banyak hal selain mengharapkan perhatian pemerintah untuk menyelamatkan komuditas pisang daerah.
Dari sumber pembeli pisang jajakan (Mugee-red) membenarkan, buah pisang saat ini sdah mejadi bahan yang sangat langka. Pasalnya, kebiasaan mugee ini, bisa mengumpulkan paling sedikit satu – dua ton perhari yang dibeli langsung dari kebun petani.
"Dulu cari pisang gampang harganya pun lumayan murah, sekarang harga pisang seperti pisang ayam sekitar 5.000 - 7.000 rupiah /sisirnya, pisang raja, dari sebelumnya harga berkisar 500 rupiah, sekarang mencapai 2.000-4.000 rupiah /sisirnya. Dan pisang wak yang umum dikonsumsi warga dari harga yang berkisar 300 rupiah sekarang mencapai 1.200 rupiah/sisir, itupun jika ada barang," jelas salah seorang pembeli pisang jajakan, Wahab saat ditemui Bisnis Aceh.
Lebih jelas diterangkan, kelangkaan pisang ini kadang - kadang juga memicu panen muda, sebelum batas waktu panen tiba, maka pisang tersebut harus dipaksakan panen, disebabkan permintaan mendesak dan juga ancaman penyakit yang tidak mnyelamatkan.
Meskipun demikian, sikap sigap dinas sendiri masih belum bisa menyimpulkan secara pasti mengenai upaya penyelamatan penyakit pisang ini.
“Perkebunan pisang warga ini memang sangat tua dan belum pernah dibersihkan, maka penyakit tersebut mudah menyerang, pencegahan lain sejauh ini belum ada upaya dari pamerintah,” tandas Muktaruddin.