BANDA ACEH - Lembaga swadaya masyarakat Koalisi untuk Advokasi Laut Aceh (KuALA) mengemukakan para nelayan di daerah itu mengeluh karena banyak pelabuhan pendaratan ikan (PPI) yang masih dangkal, sebagai dampak musibah tsunami 26 Desember 2004.
Sekjen Jaringan KuALA, Marzuki di Banda Aceh, hari ini menyatakan, dari hasil survey dan workshop para pengelola PPI terungkap hampir seluruh kuala di Aceh masih dangkal, sehingga menyulitkan bagi nelayan untuk melakukan sandar di PPI atau tempat pendaratan ikan (TPI).
Workshop yang merupakan pertemuan tahunan pengelola PPI yang ada di Aceh, baik dari Pemerintah maupun Panglima Laot Lhok (lembaga adat laut) berlangsung sehari di Banda Aceh.
Acara tersebut dihadiri delapan perwakilan PPI yang ada di Aceh, diantaranya dari PPI Manyak Payed Kabupaten Aceh Tamiang, PPP Idi, Kabupaten Aceh Timur, PPI Lambada Lhok, Kabupaten Aceh Besar, PPP Lampulo, Kota Banda Aceh, PPI Ujong Muloh ¿ Lamno, Kabupaten Aceh Jaya, PPI Rigaih, Kabupaten Aceh Jaya, PPI Ujong Baroh, Kabupaten Aceh Barat dan PPI Labuhan Haji, Kabupaten Aceh Selatan.
Marzuki menyatakan, hasil study, fakta di lapangan ternyata hampir seluruh kuala di Aceh dangkal (dheu). Selain itu, permasalahan yang krusial lainnya adalah masih terbatasnya SDM di masing-masing kabupaten/kota, sehingga masih perlu peningkatkan kapasitas pengelolaan dan pengembangan TPI/PPI.
Rika Astuti, selaku Ketua Tim study menyampaikan, kedangkalan PPI yang terjadi di pantai barat - selatan Aceh disebabkan oleh musibah tsunami pada tahun 2004, sedangkan di pantai utara-timur Aceh disebabkan oleh banjir bandang dan longsornya bantaran sungai.
Ia mencontohkan banjir bandang di Aceh Tamiang pada 2005, sehingga PPI/TPI di pantai utara timur Aceh banyak yang dangkal. Oleh karena itu, perlu perhatian khusus untuk menyelesaikan persoalan klasik tersebut, sehingga alur keluar masuk boat nelayan lancar dan mudah membawa hasil tangkapan nelayan ke PPI di wilayahnya masing-masing.
Data dari Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Aceh menunjukkan bahwa hampir semua TPI dan PPI yang tersebar di daerah itu yang sudah dilakukan pendataan dan survey pada 2011.
Dari survey itu menunjukkan bahwa ada beberapa PPI yang layak untuk dibantu dan masih ada juga yang belum pantas dibantu, karena ada beberapa aspek yang harus diperhatikan, baik dari jumlah nelayan maupun lokasinya.
Kepala Dinas DKP Aceh Raihana menyatakan, pihaknya sekarang ini lagi memfokuskan pengembangan PPP Lampulo sebagai representative pelabuhan perikanan di Aceh dan pengembangan PPP Idi di pantai utara-timur Aceh serta antara PPI Labuhan Haji dan PPI Ujong Seurangga untuk pantai barat-selatan yang sekarang lagi diverifikasi kelayakan pengembangannya.
Sumber : Waspada/Antara