Beranda»Agribisnis»Cara peternak lele herbal Aceh Tamiang pertahankan usaha

Cara peternak lele herbal Aceh Tamiang pertahankan usaha

BISNIS ACEH
Senin, 07 Juli 2014 11:16 WIB

[Foto : pertamina]">Foto : pertaminaPeternak lele herbal Aceh Tamiang

ACEH TAMIANG - Pelaku usaha manapun pasti sepakat jika sukses menggapai hasil saja tidak cukup. Setelah sukses menikmati hasil, langkah selanjutnya adalah mempertahankan kinerja dan bahkan meningkatkan agar lebih maju. Demikian pula yang dilakukan para peternak lele Kelompak Tani Sido Urip yang ada di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh.

Setelah menguasai cara beternak lele yang lebih baik dan menikmati cuan, pada tahun 2013 mereka melakukan tiga terobosan. Pertama, memisahkan kegiatan beternak lele dalam satu divisi khusus meski masih berada dalam bagian Kelompak Tani Sido Urip.

Kedua, membentuk lembaga keuangan masyarakat (LKM). Ini adalah lembaga yang berfungsi seperti koperasi. Jadi ada kegiatan iuran anggota, simpan dan pinjam. Saat ini total dana kelolaan LKM ini sebesar Rp 40 juta.

Para peternak memanfaatkan LKM tersebut untuk mendukung permodalan. Suparto, salah seorang peternak mengaku belum lama ini memanfaatkan pinjaman sebesar Rp 1 juta. Dia harus mengembalikan pinjaman sebesar Rp 1,05 juta dalam tempo 2,5 bulan atau sejak pembesaran lele sampai panen.

Layaknya cara kerja koperasi, kelebihan dana yang merupakan selisih pinjaman dan pengembalian tersebut masuk kas. "Tambahan bayar Rp 50.000 masih ringan," ujar Suparto, pria yang pernah menjabat sebagai Ketua Kelompok Tani Tani Sido Urip di periode awal atau tahun 1995-2000 ini.

Ketiga, memproduksi makanan berbahan lele yakni kerupuk lele. Namun, upaya menggarap produk jadi ini belum maksimal. Dari 23 kepala keluarga peternak lele, baru tiga peternak lele yang melakukan kegiatan usaha ini. Asal tahu saja, 23 kepala keluarga peternak lele tersebut adalah bagian dari 46 kepala keluarga yang merupakan anggota Kelompok Tani Sido Urip.

Meski usaha para peternak lele sudah semakin mapan, bukan berarti mereka tak lagi menemui kendala. Saat ini mereka tengah mencari solusi untuk mengatasi ketidakstabilan suhu udara yang berdampak tak baik bagi perkembangan bibit lele.

Para peternak menduga ini adalah efek dari gejala alam letusan Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatra Utara, sejak tahun lalu. "Suhu udara yang berubah ekstrim bisa menyebabkan bibit mati," aku Bambang Sutrisno.

Perlu Anda ketahui, para peternak tak lagi mendatangkan bibit lele dari Binjai dan Medan tetapi sudah mulai membibitkan lele sendiri. Jadi kini mereka tak hanya menjual lele dewasa tetapi juga menjual bibit lele.

Hasilnya, sejumlah petani mengaku beberapa kolam pembibitan mereka menganggur. Contohnya Sugiono yang mengaku empat dari lima kolomnya kini kosong.

Padahal para peternak mengaku menjual bibit lele lebih menguntungkan ketimbang menjual lele dewasa. Mereka menjual bibit lele dengan harga Rp 300 per bibit ukuran 3 inci. Sebagai gambaran, modal untuk 20.000 bibit lele adalah Rp 2 juta. Jadi keuntungan yang dikantongi bisa sampai Rp 4 juta.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : kontan



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda
Close