BANDUNG - Kalangan pengusaha khawatir defisit komoditas kakao akan terjadi akibat permintaan kakao dunia terus meningkat hingga 2-4% per tahun. Sementara produksi kakao dunia tidak mampu menutup kebutuhan sebesar itu.
Beberapa pengusaha justru melihat kekhawatiran tersebut sebagai peluang bagi Indonesia yang kini menjadi produsen kakao nomor tiga terbesar dunia setelah Ghana dan Pantai Gading.
Ketua Asosiasi Pengusaha Industri Kakao dan Cokelat Indonesia (APIKCI) Sony Satari mengatakan, saat ini Indonesia masih sangat mungkin meningkatkan produksi kakaonya.
Rata-rata produktivitas kakao Indonesia sekitar 500 kg per ha. Padahal menurutnya produktivitas perkebunan kakao masih bisa ditingkatkan menjadi 2 ton per ha.
"Jika petani mampu meningkatkan produktivitas tanpa ekstensifikasi lahan pun produksi kakao Indonesia akan meningkat. Di Aceh saja produktivitas sudah bisa mencapai 3 ton per ha," ungkap Sony, Senin (7/7/2025).
Untuk meningkatkan produktivitas, Sony mengatakan diperlukan bibit yang bagus, pemupukan dan pemeliharaan yang teratur.
Di dalam negeri sendiri tingkat konsumsi kakao terus meningkat tiap tahunnya. Tahun ini konsumsi kakao nasional mencapai 500 gram per kapita meningkat 25% dari tahun 2013 sebesar 400 gram per kapita.
"Namun angka ini masih kalah jauh dengan komsumsi kakao Eropa yang mencapai 8 kg per kapita," papar Sony.
Dalam kontrak antara petani dengan kalangan industri harga biji kakao mentah sekitar Rp12.200 per kg sedangkan biji kakao yang sudah difermentasi sekitar Rp13.600 per kg.
Produksi biji kakao semester ini telah mencapai sekitar 400.000 ton. Sementara target kapasitas industri pengolah kakao tahun ini mencapai 250.000 ton per tahun, meningkat dari realisasi tahun lalu yang mencapai 100.000 ton per tahun.
Sumber : bisnis