ACEH TAMIANG - Bukan sembarang lele yang diternak karena selain pakan ikan, para peternak lele di sini ini juga memberi makan jamu. Itu sebabnya mereka menyebut lele herbal.
Ada 11 bahan jamu, seperti mengkudu, jahe, temulawak dan kunyit. Ada pula daun sirih, daun sirsak, buah kedaung, gula merah, bawang putih dan garam. Bahan-bahan ini dihaluskan kemudian difermentasi selama tiga hari. "Setelah itu diperas dan airnya dicampurkan ke pelet dengan takaran 1,5 liter jamu untuk 7 kilogram (kg) pakan," beber Bambang Sutrisno, peternak yang sekaligus menyandang peran sebagai Ketua Kelompok Tani Sido Urip.
Sebelum beternak lele, Kelompok Tani Sido Urip yang ada di Kampung Tanjung Seumantoh, Kecamatan Karang Baru, Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh, sudah lebih dahulu bergelut di bidang pertanian. Kelompok tani ini berdiri sejak tahun 1995 dan beranggotakan warga Kampung Tanjung Seumantoh. Hanya, tak semua warga bergabung dalam kelompok tani ini.
Sedikit menilik nama, "Sido Urip" sejatinya dari bahasa Jawa yang berati "jadi hidup". Perlu Anda ketahui, sekitar 90% warga Kampung Tanjung Seumantoh adalah masyarakat keturunan Jawa. Orang tua atau kakek mereka dahulu adalah perantau yang akhirnya memilih menetap di daerah yang berada di Selatan Aceh ini.
Nah, menyoal kelompok tani yang sudah berdiri sejak dekade 1990-an tersebut, rupanya para anggota mengaku tak mengalami perubahan yang berarti dari sisi finansial. Tanah yang cenderung kering dan keras kurang mendukung pertanian. Jika Anda kebetulan berkunjung ke daerah ini, hamparan kebun sawit akan lebih gampang ditemui ketimbang area pertanian.
Beruntung, pada tahun 2011, muncul tawaran dari PT Pertamina EP Field Rantau yang tengah menggelar program tanggung jawab perusahaan alias corporat social responsibility (CSR). Perusahaan ini menawarkan bantuan pengembangan usaha bagi Sido Urip yang berlokasi di ring satu lokasi eksplorasi Pertamina EP Lapangan Rantau.
Tak mau melewatkan kesempatan, Sido Urip pun menerima bantuan Rp 100 juta. "Kami gunakan untuk membeli bibit, membangun kolam dan pakan," beber Bambang Sutrisno, Ketua Kelompok Tani Sido Urip.
Namun, bantuan dana dalam jumlah besar ternyata tak menjamin rencana berjalan mulus. Tidak perlu menunggu sampai setahun, ternakan lele para warga mati. Alhasil, usaha baru yang semula diharapkan menjadi sumber penghasilan yang lebih menjanjikan tersebut, pupus di tengah jalan.
Suparto mengatakan musabab kegagalan karena mereka sebenarnya belum paham benar cara beternak lele. Di sisi lain, kala itu mereka masih harus mendatangkan bibit lele dari Binjai dan Medan, Sumatra Utara. Perjalanan Binjai atau Medan ke Kampung Tanjung Seumantoh yang memakan waktu lebih dari empat jam ternyata membikin lele stres. "Jadi lele tidak cepat besar juga," kata bapak beranak tiga tersebut.
Tak dipungkiri jika kegagalan tersebut sempat membikin para peternak putus asa. Namun, tak mau berlama-lama larut dalam keputusasaan, para peternak pun putar otak mengatasi kendala tersebut.
Hasilnya, terpikirlah untuk memberikan obat penguat untuk lele. "Dari orang tua kami, kan biasa kalau memberikan jamu-jamuan kepada ayam supaya kuat. Lalu kami berpikir kenapa tidak coba diberikan ke lele," beber Sugiono, peternak lele berusia 68 tahun.
Ikhtiar para peternak lele tak sia-sia dan mengantarkan mereka hidup lebih sejahtera sekarang. Bambang misalnya yang memiliki 14 kolam, setiap panen 2,5 bulan sekali mengantongi keuntungan bersih Rp 6 juta. "Saya bisa membangun ini (rumah) dan bikin kolam lebih baik," ujar Bambang.
Sumber : kontan