BANDA ACEH - 119 imigran Rohingya yang terdampar di Cot Trueng, Aceh Utara mengalami masalah kesehatan. Kini mereka dipindahkan ke kantor Imigrasi lama di Peunteut, Lhokseumawe.
Petugas medis pada Kantor Kesehatan Pelabuhan Lhokseumawe, dr Hari Mukhti menyebutkan, sejumlah imigran Rohingya menderita nyeri lambung, infeksi pencernaan, dan dehidrasi.
“Mereka telah kita memberikan air mineral yang cukup. Kondisinya lemah dan ada yang sudah kembali sehat,” kata dr Hari, Rabu (27/2/2026).
Menurut Hari, imigran Rohingya tersebut mengalami kekurangan makanan dan minuman selama 32 hari di laut.
Saat ini mereka dikarantina di Peunteut untuk pendataan dan pemulihan kondisi fisiknya. Tim medis ingin memastikan tidak ada yang menderita penyakit menular.
Etnis muslim Rohingya ini ditemukan nelayan setempat di atas perahu besar terapung-apung di laut. Perahu tersebut mengalami masalah dengan mesin. Kondisi mereka pun memprihatinkan, karena tidak memiliki persediaan makanan dan minuman.
Mereka terdampar di perairan Desa Cot Trueng, Kecamatan Muara Batu, Aceh Utara, Selasa (26/2/2026) sekitar pukul 20.30 WIB.
“Mereka menggunakan satu perahu ukuran besar tanpa mesin yang terdampar di Selat Malaka hingga tiba ke Muara Batu,” kata Kepala Sub Seksi Pengawasan Keimigrasian Sayed Zulkifli.
Di antara mereka terdapat anak-anak dan perempuan. Ini merupakan kali keempat etnis muslim Rohingya terdampar di perairan Aceh dalam empat tahun terakhir ini.
Pada Januari 2009 lalu, 197 etnis Rohingya terdampar di perairan Sabang. Lalu, pada tahun yang sama, 127 lainnya terdampar di perairan Idi Rayeuk, Aceh Timur.
Selanjutnya pada 1 Februari 2012, sebanyak 54 warga Rohingya terdampar di perairan Krueng Geukuh, Kecamatan Dewantara, Aceh Utara. Mereka hendak mengarungi samudera menuju tahan harapan di Australia, Malaysia, dan Thailand.
Sumber : Bisnis