BANDA ACEH - Pemerintah Aceh dinilai kurang peduli terhadap produk perkebunan berupa kopi arabika Gayo (kopi Gayo) meski komoditas tersebut merupakan primadona ekspor andalan di provinsi itu.
“Hasil penelusuran kami ternyata Pemerintah Aceh tidak menempatkan ‘kopi Gayo’ menjadi prioritas untuk ditingkatkan produktivitas maupun kualitasnya,” kata politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Bardan Sahidi yang dihubungi dari Banda Aceh, Rabu.
Anggota DPRA terpilih itu menyebutkan Pemerintah Aceh tidak mengurus dengan benar “kopi Gayo”, terutama dalam mendukung sistem pemenuhan benih varietas unggul kopi arabika Gayo 1 dan Gayo 2 yang ditetapkan Menteri Pertanian melalui Keputusan Nomor 3998/Kpts/SR.120/12/2010, tertanggal 29 Desember 2010.
“Pemerintah Aceh tidak mengurus kopi Gayo. Realitas ini sangat disayangkan, masyarakat petani terutama di Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah tentunya dirugikan,” kata Bardan Sahidi menambahkan.
Dinas Perkebunan Aceh dalam APBA 2014 menganggarkan kegiatan pembuatan kebun induk sebagai sumber benih utama kopi Arabika varietas unggul Gayo 1 dan Gayo 2 di lahan kebun daerah Pemerintah Aceh di kampung Burni Bius, Kecamatan Silihnara Kabupaten Aceh Tengah.
Tapi, kata dia Dinas Perkebunan Aceh hingga saat ini baru akan mengusulkan ke Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian RI untuk ditetapkan. Dapat dipastikan kegiatan tersebut tidak dapat terlaksana, apalagi sekarang sudah memasuki penghujung tahun anggaran 2014
“Tidak ada aktifitas perkebunan layaknya kebun induk milik pemerintah, walau dukungan anggaran tahun ini mencapai Rp 2,5 miliar untuk membangun kebun induk dengan tujuan utama sebagai sumber benih. Sepertinya akan sulit dilaksanakan, dan ini sudah akhir tahun,” kata Bardan Sahidi.
Saat ini, menurutnya kebutuhan dan permintaan bibit unggul dari petani kopi di Aceh khususnya di Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues tergolong besar, sehingga relatif belum terpenuhi.
“Saat ini petani masih mendapatkan bibit secara tradisional (turun temurun), dengan kualitas rendah yang rentan terhadap hama dan penyakit seperti nematome, jamur akar dan karat daun, demikian juga dengan masalah produksi yang rendah,” katanya menjelaskan.
Untuk itu, Bardan meminta kepada dinas terkait agar segera melaksanakan kegiatan pembibitan dan kegiatan lain di kebun induk untuk memenuhi permintaan benih unggul bersertifikat dalam peningkatan kualitas dan mutu produksi kopi “Gayo” sebagai komoditas ekspor.
Sumber : antara