JAKARTA - Pemerintah mengakui saat ini para peternak mengalami kerugian, hal itu dipengaruhi ketergantungan produsen lokal pada bibit ayam petelur (grand parent stock) asing. Importasi yang tinggi membuat biaya produksi membengkak.
"Bisa dibilang 97 persen nenek moyang ayam di negara ini itu masih impor, (bibit) ayam lokal hanya tiga persen. Kita akan kendalikan impor GPS," ujar Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi saat ditemui di kantornya, Senin (29/10).
Dia menegaskan pemerintah berencana memanggil importir bibit ayam, supaya pasokan tidak over supply. Harga telur yang saat ini turun, selain ketergantungan impor, diakibatkan permintaan yang melemah setelah hari raya.
Saat ini. seekor GPS bisa menghasilkan sekitar 40 ayam parent stock (PS) yang akan menghasilkan telur atau anak ayam. Peternak dalam negeri biasanya mengimpor GPS dari industri di Eropa dan Amerika, namun harga GPS relatif mahal mencapai USD 30 per ekor.
Hingga September tahun ini, impor GPS sudah mencapai 368.557 ekor, sementara importir mematok target 600.000 ekor, lantaran kebutuhan dalam negeri dianggap sangat tinggi, dan belum ada produsen dalam negeri mampu menghasilkan bibit lokal yang mumpuni.
Dari data Kemendag, pekan ini harga telur per kilogram masih membikin rugi peternak, seperti misalnya di Blitar, harga stabil di kisaran Rp 12.200, Jakarta Rp 13.500, dan Purwokerto Rp 13.400. Padahal biaya produksinya sudah mencapai sekitar Rp 15.700. "Kalau pengusaha rugi biasa. Tapi yang menjadi perhatian kita itu kenapa turunnya lama," ungkapnya.
Penduduk Indonesia rata-rata mengonsumsi 31 juta ekor ayam per minggu atau setara dengan 1.612 juta ekor setahun. Kementerian Pertanian memperkirakan permintaan asupan protein hewani yang berasal dari daging ayam tahun ini menjadi 6-7 kilogram per kapita per tahun dan konsumsi telur ayam sebanyak 5 kilogram perkapita per tahun.
Bayu menyatakan selain mengurangi volume impor ayam Kemendag bakal meminta produsen telur mengirim produksi ke industri tepung telur dan roti. Sejauh ini, industri bahan pangan, belum dilirik para pelaku usaha peternakan, padahal potensinya besar.
"Tahun ini ada peningkatan volume bisnis kue dan roti menyebabkan peningkatan untuk permintaan tepung telur. Sayangnya pemenuhan itu dari impor," ungkapnya.
Sumber : merdeka