Beranda»Berita Umum»Penyakit ganas di tubuh Organisasi Kerjasama Islam

Penyakit ganas di tubuh Organisasi Kerjasama Islam

BISNIS ACEH
Rabu, 06 Februari 2013 17:49 WIB

Organisasi Kerja Sama Islam ke-12 di Ibu Kota Kairo MesirFOTO : ReutersOrganisasi Kerja Sama Islam ke-12 di Ibu Kota Kairo Mesir

JAKARTA - Organisasi Kerjasama Islam (OKI) semula bernama Organisasi Konferensi Islam ini dibentuk berdasarkan keputusan pertemuan tingkat tinggi diadakan di Ibu Kota Rabat, Maroko, pada 25 September 1967. OKI muncul sebagai reaksi keras atas aksi pembakaran Mesjid Al-Aqsa di Kota Yerusalem. OKI merupakan satu-satunya organisasi antar pemerintah mewakili umat Islam dunia. Organisasi ini beranggotakan 57 negara termasuk Indonesia, dan mencakup tiga kawasan yakni Asia, Arab, dan Afrika.

Organisasi ini menjadi ajang menjawab berbagai tantangan mengemuka di berbagai bidang seperti politik, ekonomi maupun sosial budaya. Banyak kalangan menilai struktur dan kinerja OKI belum efisien dan efektif bagi anggotanya. Selain itu, berbagai pihak menuding OKI lebih banyak menekankan pada masalah politik dan penanganannya. Namun ironis, masalah ini datang dari negara anggota OKI sendiri. Konflik di Palestina menjadi bahasan tahun lalu namun kali ini agenda bertumpuk termasuk penyelesaian kekerasan di Suriah dan Mesir kali ini menjadi tuan rumah.

OKI nyata-nyata lemah koordinasi dan daya tawar (leverage) berbagai isu global. Mereka dipandang hanya menjadi organisasi menyuarakan kepentingan sekelompok negara. Meski kali ini sorotan masalah mulai meluas hingga perkara etnis Rohingya. Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) OKI ke-12 di Ibu Kota Kairo masih pula berkutat pada masalah itu-itu saja. Palestina menjadi bahasan saban tahun dengan sudut berbeda yakni mengawal kedaulatan negara itu yang sudah diakui oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), minoritas Muslim di negara non-anggota OKI, nuklir Iran, dan Revolusi Arab (Arab Spring).

Sorotan ketiga masalah tersebut terlihat dari pertemuan tingkat menteri luar negeri (KTM) bakal menetapkan rancangan komunike akhir. Rancangan ini dikawal sejumlah pemimpin dunia Arab seperti Presiden Mesir Muhammad Mursi hingga Presiden Iran Mahmud Ahmadinejad serta sejumlah kepala negara dan kepala pemerintahan itu. Salah satu isinya mengutuk keras agresi militer Israel ke Jalur Gaza, Palestina pada akhir tahun lalu, seperti dilansir BBC (5/2).

OKI juga menyorot dan mengutuk upaya Israel dalam pemperluas permukiman Yahudi di tanah Palestina dan usaha Zionisme di wilayah Kota Suci Yerusalem (Al Quds).

Mengenai masalah minoritas Muslim di negara-negara non-anggota OKI, KTT antara lain menyoroti penindasan terhadap Muslim Rohingya di Myanmar. Mereka mendesak pemerintah Myanmar serius menangani perselisihan itu dan OKI bakal terus mendorong untuk mengakhiri krisis kemanusiaan di negara itu.

Sementara menyangkut Revolusi Arab, OKI menyorot konflik Suriah makin membara dan mendesak rezim Presiden Basyar al-Assad untuk mengakhiri kekerasan bersenjata telah berlangsung dua tahun dan menewaskan puluhan ribu jiwa serta jutaan orang mengungsi.

 

Sumber : Merdeka



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda
Close