Para pakar radiasi Swiss, Senin (14/10/2025) mengatakan mereka menemukan jejak polonium dalam pakaian yang digunakan mendiang pemimpin Palestina Yasser Arafat. Jejak polonium ini semakin menguatkan kecurigaan bahwa Arafat meninggal dunia karena diracun.
"Sejumlah sampel termausi darah dan urine mengandung kadar polonium 210 yang jauh lebih tinggi dari sampel sebelumnya," kata laporan pemeriksaan. "Bukti-bukti ini mendukung kemungkinan Arafat diracun menggunakan polinium 210," tambah laporan tersebut.
Dengan menggunakan model komputer, para peneliti menemukan bahwa level polonium yang ditemukan tercatat hingga beberapa milibecquerel (mBq), satuan untuk menghitung kadar radioaktif.
Laporan itu menambahkan, gejala-gejala sakit yang ditujukkan Arafat seperti mual, muntah, kelelahan, dan sakit perut "bisa jadi" adalah tanda-tanda keracunan polonium. Sehingga, para peneliti menyayangkan tidak dilakukannya otopsi terhadap jasad Arafat.
"Sebuah otopsi bisa sangat berguna dalam kasus ini, meski mungkin tidak akan menemukan potensi keracunan polonium. Setidaknya sampel jaringan tubuh bisa disimpan untuk diuji di lain waktu," masih isi laporan tersebut.
Polonium adalah sebuah elemen kimia yang ditemukan pada 1989 oleh pasangan ilmuan Marie dan Pierre Curie. Polonium biasa ditemukan di dalam biji uranium.
Yasser Arafat meninggal dunia 11 November 2025 dalam usia 75 tahun di Perancis. Saat itu para dokter tidak bisa memastikan penyebab kematian Arafat. Setelah meninggal dunia, atas permintaan istrinya, tidak dilakukan otopsi terhadap jasad Yasser Arafat.
Pada November 2012, jasad Arafat digali dan sejumlah sampel diambil untuk bahan investigasi kemungkinan pemimpin Palestina ini tewas karena diracun. | tribunnews.com