Beranda»Berita Umum»Di Aceh masih marak anak bekerja untuk nafkahi keluarga

Di Aceh masih marak anak bekerja untuk nafkahi keluarga

BISNIS ACEH
Selasa, 28 Mei 2013 16:37 WIB

[FOTO : antarafoto]">FOTO : antarafotoIlustrasi anak Aceh

BANDA ACEH - Fenomena anak-anak bekerja demi menafkahi diri sendiri atau keluarga masih marak di Aceh. Kondisi itu membuat sejumlah aktivis yang peduli anak merasa prihatin.

Dengan cekatan, sepasang tangan mungil yang dibalut sarung tangan lusuh dengan ukuran lebar menyusun batu bata yang masih berasa panas. Sedikit demi sedikit hingga terhitung satu kepala. Satu kepala berarti seratus batu bata dan itu berharga dua ratus rupiah. Sudah lima kepala tumpukan, di mana masing-masing tumpukan berjumlah seratus buah. Uang sejumlah seribu rupiah pun sudah bisa dipastikan untuk dikantongi bocah pemilik tangan mungil dengan sarung tangan lusuh itu.

Bocah itu adalah Abrar khoiri, siswa kelas 5 di sebuah sekolah dasar di Kecamatan Baitussalam, Aceh Besar. Hampir setiap hari, sepulang sekolah, Abrar menghabiskan waktunya di pabrik batu bata di kecamatan yang sama. Setiap tumpukan seratus batu, ia diupah dua ratus rupiah. Bersama Abrar, ada dua bocah kecil lainnya, yakni Iqbal dan Imam. Ketiganya beraktivitas sama.

"Untuk bantu orangtua dan uangnya bisa buat jajan sendiri. Kalau ada lebih, untuk ditabung," kata Abrar menjelaskan tujuannya mengangkut bata-bata dari tungku perapian ke tempat penumpukan hasil produksi.

Di kawasan lain, Zulkifli (10), bocah laki-laki asal Peuniti, Banda Aceh, terlihat bergerilya dari satu warung kopi ke warung kopi lainnya. Kepada setiap konsumen warung kopi, Zul mengulurkan tangannya berharap belas kasihan dari para pelanggan warung kopi. Bocah laki-laki ini seolah menjadi tulang punggung keluarga untuk peghasilan dari aktivitas meminta-mintanya setiap hari.

Zul mengaku masih memiliki kedua orangtua dan ia juga mengaku tidak pernah mendapat larangan dari orangtuanya untuk melakukan aktivitas meminta-minta. "Ayah tidak larang, kan nanti uangnya bisa buat jajan sendiri," ujar Zul tersenyum.

Fenomena anak-anak bekerja layaknya orang dewasa di Aceh sudah berlangsung lama. Tidak hanya bekerja di pabrik bata (walaupun mereka tidak diikat dengan waktu dan aturan), tetapi juga bekerja di pasar menjadi pemulung, bahkan pengemis.

Penggagas Forum Perlindungan Anak Aceh (FPAA), Nurjannah Husien, mengaku miris dan menyayangkan para orangtua yang membiarkan anak-anak mereka mencari nafkah sendiri. "Walau mereka bukan bekerja dalam artian formal dengan kewajiban tertentu, yang dilakukan anak-anak ini adalah hal yang direstui oleh orangtua, dan ini artinya sama dengan meminta mereka bekerja dan mencari uang," kata Nurjannah Husien kepada Kompas.com beberapa waktu lalu.

Menurut Nunu, pemerintah seharusnya bisa memberi perhatian lebih untuk tumbuh kembang anak-anak di Aceh. "Mereka adalah generasi penerus jika tidak dari sekarang diperhatikan tumbuh kembangnya, mau jadi apa daerah ini di waktu yang akan datang. Jangan-jangan suatu saat kita menjadi krisis generasi penerus yang cerdas yang bisa membangun daerah," ujarnya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak Aceh (KPAA) Anwar Yusuf Ajad juga mengaku miris melihat perkembangan anak-anak di Aceh. "Anak-anak selalu tumbuh dalam kondisi tidak nyaman, mulai dari konflik, hingga saat ini dilingkung modernisasi yang tak aman," katanya.

Misalnya, banyak anak-anak mulai terjerumus ke dunia prostitusi terselubung yang alasannya juga untuk sekadar memenuhi uang jajan dan bantu orangtua, bahkan uangnya juga untuk membeli narkoba, sebut Anwar Yusuf Ajad.

Data dari Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) menyebutkan, ada 73 kasus kekerasan terhadap anak yang terjadi di Aceh sepanjang tahun 2012. Kasus ini terdiri dari penganiayaan, perkosaan, pencabulan, pemukulan, pelecehan seksual, eksploitasi, sodomi, dan persetubuhan anak.

Pemerintah Aceh sendiri melalui Badan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (BP3A) kini terus melakukan penyuluhan dan pembinaan terhadap anak-anak melalui berbagai progran kegiatan. Kepala BP3A Aceh, Dahlia, mengatakan pihaknya juga gencar mendatangi sekolah-sekolah untuk berbagai penyuluhan.

"Selain itu, kita juga menjalankan program pemberdayaan perempuan di kampung dan kecamatan sehingga para perempuan juga bisa meningkatkan pengetahuan yang mereka punya. Jika perempuan sudah kuat dan jika mereka sebagai ibu, tentu tidak akan membiarkan anak-anak mereka berjalan di luar kontrol, bekerja, dan lain sebagainya," jelas Dahlia.

Dahlia menegaskan, solusi efektif untuk melindungi anak-anak di Aceh adalah menjadikan keluarga sebagai pagar dan tameng. "Anak tidak hanya bisa diberi fasilitas, tetapi orangtua harus memberi pendampingan juga, atau anak tak hanya bisa diminta memahami kalau orangtua sibuk cari nafkah karena ekonomi keluarga yang sempit, tapi orangtua juga harus memahami kalau mereka juga butuh didampingi," beber Dahlia.

Sangat diharapkan perlindungan dari keluarga dan orangtua untuk meminimalisasi kasus-kasus kekerasan terhadap anak.

 

Sumber : Kompas



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda
Close