JAKARTA - Kenaikan harga gas elpiji non subsidi atau 12 kilogram (kg) yang direncanakan mulai bulan depan, diakui akan memberatkan. Salah satu yang merasakan dampaknya adalah pelaku usaha makanan dan minuman.
Pengusaha Rumah Makan Agung Raya, Burhan mengakui, selama ini menggunakan gas 12 kg untuk restorannya. Dia mengatakan, kenaikan harga gas 12 kg akan mendorong peningkatan biaya produksi.
"Harga jual gas elpiji naik maka akan menambah biaya produksi sebesar 10 persen," ujar Burhan di Jakarta, Sabtu (23/2).
Burhan menuturkan, bertambahnya biaya produksi secara otomatis akan mendorong kenaikan harga makanan yang dijualnya.
"Restoran kan pakai elpiji yang 12 kg. Jadi harganya bisa naik,"tegas dia.
Seperti diketahui, Pertamina akhirnya mendapat persetujuan menaikkan harga gas elpiji non-subsidi 12 Kg. Rencananya, mulai bulan depan atau Maret 2013, harga elpiji 12 kg akan naik Rp 25.400 per tabung. Otomatis harga jualnya menjadi Rp 95.600 per tabung. Saat ini, harga elpiji 12 kg mencapai Rp 70.200.
Vice President LPG & Gas Products Gigih Wahyu Hari Irianto mengatakan, rencana tersebut dilakukan untuk menutupi kerugian Pertamina tahun lalu yang diperkirakan mencapai Rp 4,6 miliar.
Sumber : Merdeka