LHOKSEUMAWE - Makanan tradisional produksi Provinsi Aceh sesungguhnya memiliki daya saing dengan makanan asal daerah lain, hanya saja kalah dalam kemasan.
Demikian dikatakan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Lhokseumawe, Cut Ernita Suaidi Yahya, Jumat (8/2) di sela memberikan bantuan berbagai alat pembuat makanan tradisional kepada kelompok wanita tani (KWT) binaan Dinas Kelautan, Peternakan dan Pertanian (DKPP) Lhokseumawe, di aula Kantor Kependudukan dan Catatan Sipil.
“Makanan tradisional karya KWT Lhokseumawe sesungguhnya memiliki daya saing cukup tinggi, dari mulai cita rasa, kualitas dan kandungan gizi tergolong memadai. Karenanya makanan tersebut bisa dijadikan alternatif makanan pokok seperti nasi. Hanya saja kita masih kalah dalam kemasan, sehingga peluang pasar masih sedikit tersendat,” ungkapnya.
Untuk itu, PKK Lhokseumawe bertekad memperbaiki keemasan tersebut. Terkait peluang pasar, mereka akan minta dukungan dari Pemko Lhokseumawe terutama dinas terkait.
“Lhokseumawe punya banyak pasar ritel, saya yakin mereka itu mau menampung produk makanan tradisional masyarakat. Namun harus diimbangi kemasan yang bagus, soalnya di samping kualitas produk, cita rasa dan nilai kandungan gizi, kemasan juga menjadi faktor yang mempengaruhi ketertarikan konsumen,” cetusnya.
Di samping itu, Cut Ernita yang didampingi Kadis DKPP Rizal serta Kabid SDM dan Penyuluh Rukiyah mengatakan, selain produk makanan, industri bordir juga mulai berkembang di Lhokseumawe.
“Bahkan baru-baru ini industri bordir Lhokseumawe yang berpusat di Batuphat, Kecamatan Muara Satu, mendapat juara pertama tingkat provinsi. Saat ini pesanan dari luar Aceh mulai membludak, ada sebagian perajin bordir tidak sanggup menerima pesanan yang banyak itu. Makanya saat ini terus kita kembangkan usaha itu ke desa-desa sekitarnya,” paparnya.
Kemarin, DKPP Lhokseumawe kerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan Provinsi Aceh memberikan bantuan alat produksi makanan tradisional kepada KWT yang ada di Lhokseumawe, di antaranya KWT Seroja Desa Hasan Kareung Kecamatan Blang Mangat, KWT Paloh Batee Kecamatan Muara Dua, KWT Cut Nyak Keude Aceh dan KWT Bungong Pengaseh Gop masing-masing di Kecamatan Banda Sakti.
Alat-alat yang diserahkan di antaranya mesin mekanis pembuat dodol, oven dan kompor gas. Di Lhokseumawe sendiri ada sekitar 25 KWT yang bergerak memproduksi makanan khas Aceh, tersebar di 68 desa.
Sumber : Medanbisnis