Anda mungkin sangat kenal dengan kisah seorang gembala muda yang selalu meneriakkan bahaya akan adanya serangan dari serigala terhadap domba-dombanya. Teriakan tersebut dilakukan untuk mengatasi rasa bosannya saat menunggu domba-domba merumput. Meskipun pesan moral dalam kisah tersebut adalah tentang kerugian berbohong, namun kita tahu bahwa si gembala melakukannya sebagai penghancur rasa bosan. Apa yang diceritakan oleh kisah tersebut dapat juga dinikmati sebagai peringatan agar kita tidak terus menerus berada dalam suatu rutinitas yang sama. Sesekali kita perlu keluar dari rutinitas tersebut alias melakukan rekreasi atas nama penyegaran psikologis.
Benar belaka, bahwa si gembala melakukan rekreasinya dengan “muatan kenakalan” dan kembali terjebak dalam rutinitas yang sama yakni meneriakkan serangan serigala saat serangan itu sebenarnya tak ada. Alhasil, saat serangan yang sebenarnya datang, warga desa tak lagi datang untuk membantu sebab telah rutin mendengarkan teriakan yang sama. Si gembala tanpa sadar telah kembali ke dalam rutinitas dan membawa serta seluruh penduduk desa ke dalam rutinitas yang sama.
Banyak sekali tulisan dari para motivator ternama yang mengingatkan kita bahwa rutinitas dapat membunuh kreativitas. Rutinitas adalah sesuatu yang sama dari waktu ke waktu, tanpa kejutan, tanpa pembaruan. Pepatah Cina menyampaikan pesan untuk hal ini: pemandangan yang biasa tampak menjadi tak menarik lagi. Kita cenderung untuk tidak memperhatikan sesuatu yang sering kita lalui. Otak kita cenderung akan menganggap hal itu bukan sesuatu yang penting. Rutinitas yang dibicarakan disini bukan semata aktivitas yang anda lakukan dari waktu ke waktu tetapi juga yang dilakukan secara kolektif dari waktu ke waktu. Bagi petani di sawah lumpur bukanlah sesuatu yang menarik tetapi bagi seorang pekerja kantoran, bermain lumpur bisa menjadi wisata yang sangat menarik.
Kembali ke kisah si gembala tadi, menurut saya, rutinitas menggembalanya menimbulkan kebosanan. Ia khawatir rutinitas tersebut melemahkan kesiagaannya sehingga ia merasa perlu berteriak agar dapat memulihkan rasa awas di dalam dirinya. Hal yang sama sering dialami oleh mereka yang bergerak dalam industri rumah tangga. Rutinitas sejak bangun pagi hingga pagi kembali sering terasa menyiksa. Kumpulan petani, sebagai contoh lain, cenderung melakukan proses yang sama di sawah mereka seperti yang telah bertahun-tahun dilakukan dengan mengikuti apa yang umum dilakukan di dalam kelompoknya. Seolah-olah mereka merasa cukup dengan apa yang telah dicapai. Cara dan langkah yang telah dilaksanakan turun temurun membuat kita meyakini bahwa semua itu adalah cara dan langkah yang benar. Kita pun menjadi takut untuk berpindah ke lain cara. Takut terhadap kegagalan. Padahal seseorang tidak akan tahu banyak sampai ia mencobanya. Inilah yang disebut mendobrak rutinitas. Keberanian untuk mengambil jalur lain dari jalur yang biasa dilalui.
Sebagai pebisnis, anda harus selalu menghindar dari jebakan rutinitas. Gunanya adalah untuk terus menerus mensiagakan otak anda dalam mencari terobosan baru. Selain itu, mendobrak rutinitas dapat membantu anda mengamati situasi bisnis dan menemukan keganjilan di dalamnya. Dalam setiap proses, selalu tersedia ruang untuk inovasi. Mendobrak rutinitas berarti melakukan rekreasi. Mulailah dengan selalu mengajukan pertanyaan “rekreasi” kepada diri anda sendiri: apa yang seharusnya tidak demikian? Pertanyaan tersebut akan memberikan anda banyak hal untuk dicermati. Biasakanlah untuk menawarkan perubahan pada kehidupan anda. Perubahan kecil akan sama efeknya dengan teriakan si gembala dalam kisah tadi: menemukan khidmat yang baru.
Mendobrak rutinitas berarti juga menolak keseragaman. Biasanya dalam pelatihan kreatifitas, langkah pertama yang akan dilakukan adalah mengajukan pertanyaan “rekreasi” seperti diatas kepada peserta agar mampu keluar dari rutinitas masing-masing. Bukankah semua orang percaya bahwa kotak adalah sesuatu yang berbentuk persegi? Padahal di negara kita kotak dapat diterjemahkan sebagai kemasan dan bentuknya dapat berupa bola, limas atau tak beraturan. Dengan demikian, jawaban bagi pertanyaan “rekreasi’ kita adalah kotak tak seharusnya persegi. Begitu banyaknya kata “square” digunakan di lokasi-lokasi perbelanjaan. Kata itu dalam Bahasa inggris berarti persegi. Pernahkah anda mengamati ada berapa lokasi perbelanjaan yang memakai kata “square” yang arealnya benar-benar persegi?
Ada contoh lain yang sering membuat saya tertawa dan sering saya ulang-ulang. Di banyak tempat, para ibu suka menyenandungkan lagu “nina bobo” saat membuai anaknya tanpa peduli apakah anaknya bernama Nina atau bukan. Juga tak peduli apakah anaknya lelaki atau perempuan. Saya juga tak pernah tahu ada anggota keluarga yang protes soal nama tersebut saat mendengar bayi disenandungkan. Rutinitas menyanyikan lagu itu mengurangi kekritisan kita. Padahal jelas, lagu tersebut ditujukan untuk seseorang yang bernama Nina. Konon lagu tersebut bermula dari senandung penenang buat anak perempuan blasteran Indo-Belanda yang bernama Helenina. Anak yang meninggal dunia sebelum mencapai usia tujuh tahun di tahun 1878. Saya tidak yakin ia meninggal akibat gigitan nyamuk meski pernah diserang demam tinggi.
Syukurlah, di Aceh anak-anak dapat dibuai dengan lagu yang menyebut nama masing-masing atau dengan kalimat-kalimat religi. Mudah-mudahan ini terjadi karena penolakan terhadap penyeragaman nama balita. Itu berarti, dari sejak jaman dahulu, orang Aceh telah terbiasa mendobrak rutinitas.