JAKARTA - Data ekonomi Indonesia yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan hasil positif, nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta, Selasa sore menguat nilainya 150 poin menjadi Rp11.345 dibanding sebelumnya di posisi Rp11.495 per dolar AS.
"Data ekonomi Indonesia yang dirilis oleh BPS menunjukan hasil positif, kondisi itu menjadi katalis utama nilai tukar rupiah menguat terhadap dolar AS pada Selasa ini. Tercatat pada September 2013 Indonesia mengalami deflasi sebesar 0,35%," ujar pengamat pasar uang Bank Himpunan Saudara, Ruly Nova.
Ia mengemukakan bahwa deflasi September itu karena adanya penurunan harga yang ditunjukkan oleh beberapa kelompok pengeluaran seperti bahan makanan.
Menurutnya, neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2013 yang mengalami surplus sekitar 130 juta dolar AS menambah sentimen positif bagi pasar keuangan di domestik.
"Pasar keuangan di dalam negeri selalu dihadapkan pada tiga risiko, yakni perlambatan ekonomi domestiik, defisit neraca perdagangan Indonesia, dan inflasi yang tinggi. Saat ini, neraca dan inflasi sudah mulai cenderung terkendali," uacapnya.
Kondisi itu, kata Ruly, memiliki dampak yang signifikan ke depannya dan nilai tukar rupiah memiliki potensi penguatan terhadap dolar AS.
Dari sisi eksternal, lanjut dia, dolar AS juga mengalami pelemahan terhadap mayoritas mata uang dunia menyusul belum adanya kesepakatan APBN Amerika Serikat.
Sementara itu, pada kurs tengah Bank Indonesia mata uang lokal tersebut juga menguat menjadi Rp11.593 dibanding sebelumnya di posisi Rp11.613 per dolar AS. | antara/investor.co.id