Follow Us
Beranda»Keuangan & Perbankan»Kredit macet belum ganggu perekonomian nasional

Kredit macet belum ganggu perekonomian nasional

BISNIS ACEH
Senin, 15 September 2025 16:12 WIB

[Foto : istimewa]">Foto : istimewaIlustrasi bunga kredit

JAKARTA - Bank Indonesia menyatakan kenaikan kredit macet sepanjang semester I 2014 belum mengganggu perekonomian nasional. Ada empat sektor yang sangat diawasi bank sentral, tapi itu juga hanya mempengaruhi bank-bank bermodal kecil.

Deputi Gubernur BI Halim Alamsyah mengatakan rasio kredit macet nasional (NPL) di level 2,24 persen, jauh di batas bahaya 5 persen. Tapi memang banyak bank kecil yang terkendala, terutama di daerah.

"Beberapa bank ada NPL-nya naik cukup tinggi, tapi bank-bank besar rata-rata tidak terlalu besar (pengaruhnya). Ini terutama dari bank BUKU 1 dan 2, dan beberapa BUKU BUKu 4 ada tapi tidak signifikan karena basis kreditnya besar," ujarnya di Komplek DPR RI, Jakarta, Senin (15/9).

Dalam keterangan pers akhir pekan lalu, BI mengungkapkan empat sektor dengan rasio kredit macet yang meningkat paling pesat adalah konstruksi (4,43 persen), disusul pertambangan (4,42 persen), perdagangan (3,06 persen) serta jasa sosial (2,48 persen).

Khusus untuk tiga sektor selain jasa sosial, BI sangat khawatir ada tren pemulihan agak lama. Sebab, tren penaikan ekspor pada semester II belum bisa membantu para debitur untuk membayar utangnya ke bank.

"Pemburukan ini kan ada beberapa faktor, bisa pengaruh luar negeri. Bisa juga karena likuiditas, cashflow perusahaan-perusahaan tu. Kalau masalah likuiditas, semester II ini akan membaik kecuali untuk beberapa subsektor agak lama," kata Halim.

Kredit bermasalah dari konstruksi, pertambangan, dan perdagangan, paling banyak terjadi di tingkat kabupaten atau provinsi. Halim menegaskan pihaknya akan terus berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan buat memantau kesehatan bank-bank kecil.

"Dari sisi BI ini akan kita cek bersama OJK, ini bisa mengganggu stabilitas atau tidak. Dampak kepada sisi nasional sedikit sekali, tapi kita lihat dampaknya di daerah," ungkapnya.

 

 

 

 

 

Sumber : merdeka




Komentar Anda