Beranda»Agribisnis»Petani tahan suplai, ekspor kopi Sumatera turun 36%

Petani tahan suplai, ekspor kopi Sumatera turun 36%

BISNIS ACEH
Kamis, 03 Januari 2013 09:01 WIB

Ilustrasi kopiFOTO : ISTIMEWAIlustrasi kopi

JAKARTA - Pengapalan kopi dari Sumaetra, daerah penghasil kopi robusta utama ketiga di dunia, turun ke level terendahnya dalam 3 bulan terakhir pada Desember  menyusul petani kopi menahan hasil panenannya karena harga yang tak beranjak naik.

Ekspor kopi Lampung, Bengkulu dan Sumatra Selatan turun 36% menjadi hanya 19,071 ton dari realisasi November yang mencapai 29,851 ton, ungkap data Dinas Perdagangan dan Perindustrian Lampung. Penjualan kopi setempat mencapai 18,488 ton pada September, dan tinggal 8,698 ton pada Desember.

Penurunan suplai dari Indonesia akan sedikit mengkompensasi penurunan harga kopi dunia yang mencapai 15% sejak mencapai rekor tertingginya dalam 8 bulan terakhir pada Mei. Harga kopi Robusta yang banyak dipakai oleh industri kopi instan dan esspresso di London kian menyusut karena kenaikan suplai ke pasar kopi dunia. International Coffee Organization memperkirakan produksi petani kopi dunia diperkirakan mencapai 56 juta-60 kilogram juta kantong pada 2012-2013, atau naik dari tahun sebelumnya sebesar 53,3 juta kantong.

"Eksportir kopi menahan pengapalan dan menunggu ada perbaikan harga," ujar Mochtar Luthfie. kepala penelitian dan pengembangan Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) di Lampung. Dia menyebutkan masih ada sekitar 50.000 ton yang disimpan di gudang sembari menunggu perbaikan harga.

pengapalan kopi dari 3 provinsi utama itu mencapai 75% produksi Indonesia. Angka itu naik 2,5% pada 2012 dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya sebesar 202,532 ton. Ekspor kopi, termasuk biji kopi robusta dan kopi instant, dilakukan melalui pelabuhan Panjang di Lampung.

Total produksi kopi Indonesia diduga naik menjadi 763.000 ton tahun ini dari patokan produksi 657.138 pada 2012, menurut data perkiraan Kementerian Pertanian. Harga kopi robusta sendiri bertengger di level US$1,924 di NYSE London pada 31 Desember. Harga kontrak berjangka naik US$2,269 per ton pada Mei, catatan tertinggi sejak September 2011.

 

Sumber : Bisnis/Bloomberg



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda

Terbaru di Agribisnis

Close