MEDAN - Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia (AEKI) mengaku bisnis ekspor kopi di awal 2013 ini masih lesu. Kondisi itu disebabkan oleh permintaan ekspor yang masih sepi, dan harga jual yang juga belum kembali ke level yang menggembirakan.
Ketua AEKI Sumut Andryanus Simarmata mengatakan, terhentinya kegiatan produksi kopi olahan di sejumlah negara importir berpengaruh besar terhadap minimnya permintaan impor, serta lambatnya laju perbaikan harga komoditas kopi.
Pabrikan di sejumlah negara tujuan ekspor belum berproduksi secara maksimal, akibat banyak pekerjanya yang masih menghabiskan masa libur akhir tahunnya. Kondisi itu pula yang membuat permintaan impor kopi belum maksimal.
Andyranus mengaku, saat ini harga kopi jenis arabika di pasar internasional sekira Rp43 ribu. Meski sudah mengalami kenaikan setelah menurun di akhir tahun lalu, namun harga tersebut dinilai belum cukup ideal. Begitupun di tahun ini kegiatan bisnis ekspor kopi akan lebih baik dibandingkan awal tahun lalu, seiring terbentuknya tren penguatan harga komoditas tersebut jelang akhir 2012 lalu.
"Masih sepi, permintaan belum banyak. 50 persen pun enggak sampai. Itu pun permintaan banyak ke kopi yang kualitasnya terbilang kurang bagus. Kalau harga, memang sudah naik, tapi belum kembali seperti sebelum turun waktu akhir 2012 kemarin, yang mencapai Rp46 ribu. Sementara di tingkat lokal harga kopi arabika siap ekspor sekira Rp39 ribu. Mudah-mudahan tahun ini seperti ekspektasi kita lah. Karena kalau melihat trennya, memang cenderung ada penguatan setelah beberapa tahun terakhir, harganya memang selalu mengecewakan," jelasnya, di Medan.
Andyranus menambahkan, optimisme bakal membaiknya bisnis ekspor kopi beberapa waktu ke depan, didorong oleh semakin minimnya pasokan kopi seiring masa panen yang sudah berakhir. Di samping itu, optimisme juga didorong oleh meningkatnya permintaan akan olahan biji kopi, berupa kopi bubuk siap saji oleh beberapa negara tujuan ekspor baru.
"Proyeksi kita, kelesuan ini hanya sementara. Kalau nanti aktifitas produksi kopi sudah baik, bisnis kopi akan kembali meningkat. Apalagi sekarang pasokan makin menurun. Tentunya ini akan berdampak pada harga yang akan lebih tinggi lagi. Kopi ini kan menarik, dia endemik, tapi seluruh dunia membutuhkannya. Satu lagi, sekarang banyak juga yang meminta kopi instan. Artinya kopi yang sudah jadi bubuk. Biasanya ke negara-negara peminum kopi baru seperti china. Ini potensinya besar, disamping jumlah penduduk, nilai ekonomisnya kan lebih baik," cetusnya.
Pendapat berbeda datang dari Muji Tarigan (44). Petani kopi di perbatasan Kabupaten Karo dan Kabupaten Dairi Sumatera Utara ini mengaku jika permintaan kopi sudah cukup banyak meskipun para petani belum seluruhnya kembali turun ke ladang setelah libur akhir tahun.
Menurutnya, para pengusaha kopi bahkan berani membeli kopi dengan harga cukup tinggi, karena terdesak untuk memenuhi kontrak ekspor baru.
"Siapa bilang permintaan sepi. Kami saja sudah diminta untuk kembali memanen sama pengusaha yang biasa membeli kopi dari kami. Banyak yang sudah curi start meski disaat petani banyak yang libur. Jadi biar stok mereka banyak saat panen mulai habis. Harga pun bagusnya. Kalau sebelumnya cuma Rp22 ribu per kilogram, sekarang mereka berani bayar lebih tinggi, Rp24 ribu. Katanya butuh karena sudah terikat perjanjian," tukasnya.
Sumber : Okezone