JAKARTA - Indonesia memiliki potensi menguasai pasar tepung terigu di Asia karena sudah menghasilkan produksi dalam jumlah besar dengan harga yang kompetitif.
"Prospeknya cukup baik karena pabrik terigu di Indonesia memiliki kapasitas giling besar, sehingga menjadi kompetitif dan membuat biaya produksinya murah," kata Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Tepung Terigu Indonesia (Aptindo) Ratna Sari Loppies di Jakarta, Kamis.
Dia menilai sektor hilir dalam pengolahan gandum menjadi terigu dan turunannya menyumbang produksi yang besar.
Selain itu, kata dia, ada nilai tambah yang dihasilkan dari sektor itu yaitu bertambahnya penyerapan tenaga kerja.
Saat ini, katanya, beroperasi 20 industri penggilingan terigu dengan investasi senilai Rp 14 triliun dan menyerap 6.000 tenaga kerja.
Dia mengatakan, saat ini tumbuh industri hilir terigu, baik industri skala besar seperti biskuit dan mi instan maupun skala kecil.
Ia mengatakan usaha mikro, kecil, dan menengah itu ada ratusan ribu pelaku usaha dengan menyerap tenaga kerja sebanyak dua juta orang.
Untuk itu, dia meminta pemerintah tetap melindungi produksi terigu dalam negeri dengan pengenaan bea masuk yang tinggi terhadap terigu impor.
Dia mengatakan penerapan Bea Masuk Tindakan Pengamanan Sementara (BMTPS) sebesar 20 persen seharusnya menjadi permanen.
"Sejak tahun 2003 selalu ada kebijakan untuk melindungi industri dalam negeri dari unfair competition seperti Bea Masuk Anti Dumping, lalu sekarang safeguard. Ini upaya pemerintah yang untuk meningkatkan nilai tambah, karena lebih baik impor bahan baku lalu digiling jadi terigu," katanya.
Berdasarkan data Aptindo, ekspor terigu Indonesia pada kuartal ketiga 2011 sebanyak 23,506 metrik ton, meningkat menjadi 35,043 mt pada 2012 pada kuartal yang sama.
Tujuan ekspor terigu itu seperti Filipina, Korea Selatan, Timor Leste, Vietnam, dan Hong Kong.
Sumber : antara/investor