BANDA ACEH - Tarian Sufi Rabbani Wahid dari Samalanga direncanakan akan difilmkan oleh pencinta film dokumenter Aceh.
Azhari, sutradara yang akan membesut film ini mengatakan bahwa saat ini pihaknya sedang melakukan kajian dan riset sejak September guna pembuatan latar dan alur cerita film ini nantinya.
"Kita sudah melakukan riset dua bulan, dan pembuatan film ini dimaksudkan sebagai upaya pelestarian kearifan lokal masyarkat Aceh yang selama ini kurang begitu populer," katanya.
Ia menyebutkan, hasil kajian tersebut nantinya akan difilmkan dengan durasi 15 menit bercerita tentang perjalanan tarian sufi Aceh, mulai dari 1990 yang berasal dari tarian Meugrob, proses transisi tarian meugrob ke tarian rabbani wahid, karena tarian meugrob dianggap tarian yang sentemente. serta pelaku tarian sufi lebih dominan dilakukan oleh para masyarakat yang tinggal di daerah pesisir
"Film ini mencoba memberikan informasi secara visual mengenai gerakan-gerakan, dan syair secara langsung, agar masyarakat mengetahu keberadaannya," terangnya.
Sementara itu, T.Muhammad Daud Gade(80) pendiri Tarian Rabbani Wahid mengatakan tarian ini merupakan tarian saman pesisir bermakna Tuhan yang satu, tarian Sufi Aceh yang mengajarkan tentang Tauhid, Agama, kekompakan, melalui gerakan energik.
Ia melanjutkan, Rabbani Wahed ini pada hakikatnya sama dengan Tarian Meugrob (meloncat), tarian yang dilaksanakan pada hari besar islam, biasanya dilakukan pada malam hari raya idul Fitri, setelah pembagian zakat fitrah, Tarian Meugrob muncul ratusan tahun lalu, dibawakan oleh Murid Muhammad Saman. Namun tidak bisa berkembang, lantaran perubahan politik saat perang saudara antara Ulama dan Ulee Balang tahun 1949-an, dan terjadi sentimentel antara sesama masyarakat.
"Tarian sufi ini memiliki lebih dari 30 gerakan dengan mengikuti syair dari tarian Meugrob. Awalnya hanya bersifat Rateb du’ek (duduk) dan Rateb Deng (berdiri). Tarian Rabbani Wahed Samalanga, sudah banyak dinikmati oleh masyarakat luas, seperti Jepang dan Turki," ulasnya.