JAKARTA - Sepanjang 2012, Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) menerima 620 aduan masyarakat terkait layanan pelbagai sektor usaha di Tanah Air.
Ada banyak keluhan konsumen yang ditampung YLKI. Hanya saja, ada beberapa kasus yang sifatnya kasuistik sampai sistemik.
Ketua Pengurus Harian YLKI Sudaryatmo menyatakan kasus-kasus yang masuk lima besar jumlah pengaduan hampir pasti melibatkan sistemik.
"Sepanjang tidak diatur permasalahan ini akan terus dikeluhkan," ujarnya di kantornya, Rabu (23/1).
Berikut lima hal yang paling banyak dikeluhkan konsumen sepanjang tahun lalu.
Aduan layanan jasa perbankan mencapai 18 persen dari total keseluruhan aduan. Kebanyakan adalah sistem keamanan rekening nasabah yang belum terjamin, meliputi kartu kredit bobol, penarikan kartu ATM tanpa sepengetahuan pemilik, sampai perilaku debt collector yang masih tidak menyenangkan.
Aduan terbesar kedua yang diterima YLKI adalah terkait perumahan atau pengembang yang mencapai 70 aduan atau 11 persen dari keseluruhan aduan.
Banyak pembeli rumah yang mengeluhkan keterlambatan penyerahan sertifikat rumah. Parahnya, kata Ketua Pengurus Harian YLKI Sudaryatmo, respons pengembang menengah justru sering mengkriminalisasi konsumen yang kritis.
"Kalau pengembang menengah banyak yang malah melaporkan konsumen ke polisi," ungkapnya.
Aduan terhadap layanan jasa telekomunikasi mencakup 11 persen. Anggota Divisi Pengaduan YLKI Sularsih menilai tren aduan bukan lagi sms premium seperti dua tahun lalu, melainkan jasa Internet dan kualitas koneksi yang tidak sesuai iklan.
"Selain dua itu, keluhan soal tagihan membengkak 11 keluhan, aduan tentang pencurian pulsa juga masih ada," ungkapnya.
Keluhan untuk jasa telekomunikasi paling banyak menimpa tiga besar operator sepanjang tahun lalu. Meliputi Telkomsel (27 aduan), Indosat (15 aduan), dan XL Axiata (9 aduan).
Aduan terkait sektor transportasi publik umumnya terkait penerbangan murah. YLKI menerima 36 aduan. Maskapai Lion Air menjadi yang paling banyak dikeluhkan, dengan 19 aduan. Kasus yang banyak dilaporkan mencakup pembatalan penerbangan 5, penolakan check In 7, bagasi hilang 4, dan layanan tiket 2.
Sularsih menyatakan respon maskapai murah itu cukup responsif. "Hasilnya tiket dikembalikan penuh, dan ada permintaan maaf terhadap konsumen yang dirugikan," paparnya.
Layanan listrik di dalam negeri masih belum membuat konsumen nyaman. PLN setiap tahun selalu diadukan ke YLKI. "Listrik selalu menduduki lima besar laporan ke YLKI," tegasnya.
Konsumen paling banyak mengeluhkan pemutusan jaringan dengan alasan tagihan belum dibayar. Keluhan konsumen terhadap PLN mencapai 48 aduan, atau 7 persen dari total kasus yang ditangani YLKI tahun lalu.
Sumber : Merdeka