Beranda»Berita Umum»Derita bocah Bireuen pengidap kelainan jantung

Derita bocah Bireuen pengidap kelainan jantung

BISNIS ACEH
Kamis, 18 April 2026 17:43 WIB

Azam FauziFOTO : kompas.comAzam Fauzi

BIREUEN - Azam Fauzi, bocah dua tahun ini tampak pucat. Kendati senyum tipis menggantung di bibir mungilnya, tak tertutupi duka mendalam yang ia rasakan karena menganggung kelainan jantung yang diidapnya sejak bayi.

Rona pucat turut tersirat dari wajah sang bunda, Maimunah (40), yang hanya bisa mengelus dada mendapati putra bungsunya meringis kesakitan. Begitu juga sang ayah, Safruddin (52),yang tak henti mengayuh becak motor untuk memastikan ada sedikit biaya yang bisa dimanfaatkan tatkala Azam butuh berobat.

"Namun becak ini juga nyewa dari orang lain sehingga setoran harus dikejar," sebut Safruddin berat, Rabu (17/4/2026) kemarin.

Diakuinya, keterbatasan biaya yang ia peroleh menyulitkannya mengobati secara tuntas sang putra. Padahal melihatnya saja sudah tak sanggup, bila Azam mengeluh menahan sakit yang diderita. Memiliki lima anak, keluarga ini tinggal di rumah sangat sederhana, yang berdiri di atas tanah wakaf Dusun Makmur, Desa Lhok Awe Tengoh, Kecamatan Kota Juang, Kabupaten Bireuen.

Berupaya agar sang putra sembuh, mengandalkan kartu jamkesmas Azam berulang kali mendapat perawatan medis, namun belum membuahkan hasil memuaskan. Begitupun tak ada kepasrahan yang terungkap dari seluruh penghuni di rumah itu, yang ada semangat dan keinginan kuat melihat Azam tumbuh normal dan terbebas dari penyakit jantung yang dideritanya.

"Tak hanya di RSUD Bireuen kami membawa Azam, sampai ke Banda Aceh juga sudah pernah. Namun diminta rujuk ke rumah sakit jantung di Jakarta," terang Safruddin.

Mendengar nama daerahnya saja Safrduddin kaget bukan kepalang, terlintas berapa besar biaya yang mustahil ia kumpulkan bila mengandalkan becak motor sewaannya.

Begitupun ia berusaha menghibur hati berharap cemas ada jalan keluar terbaik untuk pengobatan sang putra. Kendati tak boleh putus mengonsumsi obat setiap harinya, sang ayah bertekad Azam harus bertahan dengan kemampuan yang ia miliki saat ini.

Sang bunda, Maimunah hanya bisa menangis, tatkala Azam menunjuk dadanya sakit. Lagi-lagi Maimunah hanya bisa menangis melimpahkan kepedihannya di samping sang putra. Bagaimana tidak, sesekali disaat asyik bermain, kuku, bibir dan lidah Azam mendadak membiru sehingga harus segera dilarikan ke rumah sakit.

"Terlambat sedikit saja saya tak tau bagaimana nasibnya," sebut Maimunah. "Saya ingin melihatnya sembuh disaat saya masih hidup," tandas Maimunah.

 

Sumber : Kompas



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda
Close