SABANG - Terganggunya jalur penyeberangan antara Sabang dengan Aceh daratan mulai berdampak terhadap kenaikan harga barang-barang bangunan, yang 70% didatangkan dari Aceh daratan.
Ketua Gabungan Pelaksana Konstruksi Nasional Indonesia (Gapensi) Kota Sabang, Yusrani Susanto mengatakan, kondisi ini akan berdampak bagi segala bentuk aktivitas konstruksi yang sedang berlangsung di Sabang.
Menurutnya, dampak terganggunya pelayanan jasa penyeberangan khususnya kapal RO-RO yang jalan hanya satu kali sehari sudah menganggu stabilitas harga barang di Sabang. "Ini sudah membuat harga material bangunan melambung tinggi, dan stok menipis," ujar Yusrani, Kamis (8/11).
Dikatakannya, saat ini sudah banyak pengusaha konstruksi mengeluh dengan kondisi harga barang di Sabang yang rata-rata mengalami kenaikan hingga 30%. Terutama yang menggunakan material dari daratan Aceh, seperti semen yang saat ini sudah berada pada posisi harga Rp 57.000/sak dari sebelumnya Rp 48.000/sak. Kini semen pun telah mulai hilang dari pasaran. Sedangkan besi, rata-rata naik Rp 200/kg, demikian juga barang-barang lainnya.
"Hal ini diakibatkan trip kapal RO-RO yang biasanya dalam seminggu 11 trip menjadi hanya tujuh trip, sehingga antrean truk terutama yang membawa material memanjang di Pelabuhan Ulee Lheue, bahkan ada yang harus menginap selama lima malam," ungkapnya.
Jika kondisi ini berlanjut, dikhawatirkan proyek-proyek di Sabang terhambat, bahkan khususnya proyek pemerintah terancam mendapatkan pinalti.
"Kami mengimbau Pemko Sabang dan ASDP (Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan-red) dapat mensinerjikan kinerja sehingga kapal RO-RO dapat berjalan seperti semula," pintanya.
Diperkirakannya, jika sebulan ke depan tidak ada upaya pihak terkait mengatasi masalah ini, mengakibatkan semua proyek lumpuh. “Sekarang juga sudah terasa dampaknya," sambung Yusrani.
Sebagaimana diketahui, sejak 1 November 2025 kapal RO-RO milik ASDP tidak lagi melayani penyeberangan sesuai jadwal semula, 11 kali dalam seminggu. Itu disebabkan jauhnya jarak tempuh pascapemindahan dermada ke pelabuhan sementara di pusat Kota Sabang.
Perubahan rute ini karena pelabuhan yang biasa digunakan sedang direnovasi oleh Badan Pengusahaan Kawasan Sabang, untuk dijadikan pelabuhan modern atau pelabuhan standar RO-RO.
Sumber : Medanbisnis