JAKARTA - Bagi Anda yang biasa berbelanja di Carrefour, jangan kaget jika suatu saat ketika Anda berbelanja, tidak mendapat kantong plastik untuk membawa barang belanjaan. Sebab, nantinya kantong plastik di Carrefour tidak gratis. Konsumen harus merogoh kocek lagi untuk membeli kantong plastik.
Langkah itu diambil Carrefour bukan tanpa alasan. Carrefour mengklaim peduli akan lingkungan hidup. Itu adalah salah satu cara menekan penggunaan kantong plastik yang notabene sulit terurai.Langkah lain, Carrefour berencana menjadi pengumpul limbah baterai yang memang perlu penanganan khusus.
Carrefour tidak akan memberi kantong plastik gratis kepada konsumen. Menurutnya, limbah plastik sulit terurai, sehingga harus dikurangi. Program ini rencananya akan diuji coba 15 Oktober mendatang di gerai Carrefour Bali, Lebak Bulus, Medan, Semarang dan Yogyakarta.
"Kita tidak berikan kantong plastik free, kalau beli green bag di Carrefour kemudian rusak, datang (ke Carrefour) ambil lagi yang baru. Kita tidak kasih plastik free dengan harapan ada effort untuk mengurangi plastik," jelas Sustainable Development Manager Carrefour Indonesia Joko Arif kepada merdeka.com di Jakarta beberapa waktu lalu.
Ke depan, Carrefour akan membanderol kantong plastik besar dengan harga Rp 400 dan kantong plastik kecil seharga Rp 200. "Kalau mereka beli green bag, cukup Rp 9.900, di mana bisa pakai selamanya. Rusak, ganti yang baru," tutupnya.
Sedangkan untuk rencana menjadi pengumpul limbah baterai, Carrefour berharap bisa membantu pemerintah mengurangi limbah baterai. Joko mengatakan, saat ini pihaknya sedang mencari partner yang dapat mengelola limbah tersebut dengan bertanggung jawab.
"Walaupun bayak pengolah baterai tapi yang benar-benar bertanggung jawab itu susah. Kita cari yang jelas, jangan sampai bodong pengolahannya, misalnya dia ambil zinc nya saja, sisanya dia buang lagi limbahnya ke tempat sampah," paparnya.
Joko mengaku belum dapat memastikan realisasi program tersebut. Alasannya, membutuhkan izin dari pemerintah untuk bisa menjadi pengumpul limbah B3. "Kita selalu berusaha untuk melibatkan stakeholder yang ada. Mudah-mudahan bisa terlaksana, paling tidak ada yang memulai," katanya.
Sumber : Merdeka