Beranda»Editorial»Ekonomi Aceh kritis

Ekonomi Aceh kritis

H SAKY ~ BISNIS ACEH
Minggu, 28 Juli 2013 14:03 WIB

ilustrasiilustrasi

Bagi sebagian orang Aceh yang berstatus PNS, Pegawai BUMN, swasta ataupun lainnya, tentu kondisi perekonomian Aceh saat ini tidak berimbas terhadap perekonomian keluarga.

Jikapun kemudian kenaikan harga beberapa kebutuhan pokok masih dapat disiasati dengan melakukan pengetatan ikat pinggang terhada pengeluaran yang tidak begitu penting.

Namun bagi pelaku usaha, pedagang kecil, dan masyarakat kecil lainnya, kondisi perekonomian Aceh saat ini sangat meresahkan.

Keresahan para pelaku usaha, pedagang kecil dan masyarakat saat ini akibat tidak bergeraknya sektor ekonomi ril pada tingkatan mikro ekonomi.

Perekonomian Aceh yang saat ini masih ditopang oleh konsumsi pemerintah atau goverment expenditure dengan postur Anggaran dan Pendapatan Belanja Aceh (APBA) 2013 ternyata belum mampu memberikan stimulus fiskal sebagai penggerak ekonomi ril.

Kepala Kantor Perwakilan Wilayah (KPW) Bank Indonesia (BI) Banda Aceh, Zulfan Nukman kepada Bisnis Aceh beberapa waktu lalu menerangkan, kondisi ekonomi Aceh saat ini memang sangat mengkhawatirkan.

Ia menjelaskan, perlambatan ekonomi Aceh disebabkan tidak bergeraknya ekonomi ril disebabkan tidak adanya stimulus fiskal.

"APBA itu merupakan instrumen penting dalam menstimulus fiskal di Aceh, namun saat ini hal tersebut belum terlihat nyata," katanya.

Disisi lain, lanjutnya, sektor moneter di Aceh justru bergerak ke arah yang positif, hal ini ditandai dengan meningkatnya jumlah Dana pihak ketiga (DPK) dalam bentuk tabungan, giro, dan deposito.

Begitu juga pertumbuhan kredit meningkat tahun ini dibandingkan dengan periode sebelumnya. "Pertumbuhan kredit juga meningkat, ini berarti dari sisi moneter ada geliat pertumbuhan, namun geliat tersebut tidak diikuti dengan adanya stimulus fikal, dan dampaknya terjadi gap ekonomi," ujarnya.

Ia mencontohkan, saat ini pertumbuhan kredit ditandai dengan banyaknya orang ingin berusaha, membuka peluang bisnis dengan cara mengambil kredit di bank, namun usaha tidak jalan, karena daya beli masyarakat berada pada titik terendah.

"Daya beli masyarakat Aceh saat ini berada pada titik terendah, akibat tidak adanya stimulus fiskal," sebutnya.

Menurutnya, stimulus fiskal di Aceh sangat dipengaruhi seberapa besar daya serap dan belanja pemerintah melalui APBA.

Sebenarnya, tambah Zulfan, jika saja perekomian Aceh tidak bergantung secara mutlak pada APBA maka kondisi saat ini mungkin akan berbeda. "Jika saja kinerja investasi dan ekspor di Aceh baik, maka akan banyak alternatif untuk mendorong stimulus fiskal," paparnya.

Beranjak dari realitas ini, tentunya dibutuhkan kreativitas dan langkah segera yang harus dilakukan oleh Pemerintah Aceh untuk melakukan percepatan-percepatan serapan anggaran dan bentuk-bentuk kebaijakan lainnya untuk mendorong stimulus fiskal.

Gubernur Aceh selaku pemegang otoritas tertinggi APBA dan tim ekonominya harus memikirkan upaya-upaya ini.

Dan tentu kita berharap, dengan memasukin momen idul fitri, akan terjadi peningkatan konsumsi masyarakat yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi untuk sementara. Namun tetap saja, harus dipikirkan kerangka membangun fundamental ekonomi Aceh lebih baik kedepan. Dan yang terpenting untuk mensegerakan percepatan penyerapan APBA 2013 sebagai instrumen mendorong stimulus fiskal.



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda
Close