BISNIS ACEH ~ Editor bisnis BBC, Robert Peston, berpendapat bahwa pemerintah AS jangan lagi bermitra dengan HSBC. Ia mengatakan bahwa dengan melihat besarnya hukuman yang dijatuhkan, boleh jadi, kerusakan yang ditimbulkan oleh kelemahan HSBC jauh lebih buruk dari yang diberitakan. "HSBC telah menandatangani DPA. Ini berarti menempatkan bank itu ke dalam masa percobaan," katanya, "tapi kalau HSBC sekarang telah didakwa atas pelanggaran tersebut, itu artinya pemerintah AS tidak boleh lagi melakukan bisnis menggunakan bank tersebut. Bank itu telah amat memalukan dan merusak."
Bank terbesar di Inggris, HSBC, diberitakan telah menyampaikan permintaan maaf kepada publik atas kegagalan tersebut. "Kami menyatakan bertanggung jawab atas kesalahan masa lalu kami," kata CEO HSBC group, Stuart Gulliver dihadapan para jurnalis, seperti dikutip BBC kemarin (11/12). "Kami telah menyampaikan penyesalan yang mendalam atas semua kesalahan itu, dan sekarang, kami meminta maaf sekali lagi." Bank berlogo sudut enam tersebut mengatakan bahwa mereka telah menghabiskan 290 juta dolar AS, atau setara Rp 2,8 triliun, untuk perbaikan sistem pencegahan pencucian uang. Mereka bahkan telah menarik kembali bonus yang pernah dibayarkan kepada para eksekutif senior mereka di masa lalu.
Bulan lalu, HSBC mengumumkan telah menyiapkan dana sebesar 1,5 milyar dolar AS untuk membayar ganti rugi dan denda yang dijatuhkan. Tentu saja hukuman yang dijatuhkan jauh lebih besar daripada perkiraan HSBC tersebut. Denda dan ganti rugi itu terkait dengan kegagalan Bank tersebut memenuhi Deferred Prosecution Agreement (DPA) atau perjanjian penangguhan penuntutan. HSBC dimasukkan dalam DPA, menyusul laporan Senat AS terkait kontrol pencucian uang HSBC yang diterbikan pada awal tahun 2012. Laporan tersebut menuduh beberapa rekening HSBC di Meksiko dan Amerika Serikat telah digunakan oleh raja obat bius untuk pencucian uang.
Tidak cukup jelas apa dampak kasus ini terhadap bisnis HSBC di AS dan Eropa. HSBC masih berstatus sebagai bank yang terbesar di Eropa berdasarkan kapitalisasi pasar, dengan membukukan keuntungan sebelum pajak sebesar 12,7 milyar dolar US atau setara dengan 121,9 triliun rupiah untuk semester pertama 2012.
Tetapi Preston menyatakan bahwa saat ini hampir semua bank Inggris sedang berupaya keras untuk mengalokasikan sebagian keuntungan mereka guna membayar denda atas dosa masa lalu, yang semakin lama semakin tinggi. "Hukuman terhadap HSBC diberlakukan sehari setelah Standard Chartered, Bank Inggris yang lain, bersepakat untuk membayar denda sebesar 327 milyar dolar AS karena melanggar UU Sanksi Negara AS. Sebelumnya Standard Chartered juga telah membayar sebesar 340 milyar dolar AS kepada Negara Bagian New York...tak lama lagi Royal Bank of Scotland akan membayar denda dan ganti rugi juga, terkait skandal LIBOR"
Sekedar catatan, skandal LIBOR adalah serangkaian tindakan penipuan yang berhubungan dengan LIBOR (London Interbank Offered Tingkat) yang mencuat beberapa waktu lalu terutama setelah Barclays Bank ditengarai berkolusi untuk mengatur pengajuan tingkat suku bunga mereka pada Juni 2012. LIBOR adalah penetapan tingkat suku bunga rata-rata yang dihitung melalui pengajuan tingkat suku bunga oleh bank-bank besar di London. Skandal itu muncul ketika ditemukan bahwa sebagian bank memberikan angka palsu untuk menarik keuntungan dari perdagangan atau memberikan kesan bahwa bank mereka layak kredit meskipun sebenarnya tidak.