JAKARTA - Penurunan impor barang modal yang berturut-turut sejak November 2012 sampai Februari 2013 perlu diwaspadai karena berisiko mempengaruhi realisasi investasi dalam negeri.
Aloysius Prasetyantoko, Pengamat Ekonomi Unika Atmajaya, mengatakan impor barang modal merupakan leading indicator untuk prospek investasi, khususnya investasi asing atau PMA [penanaman modal asing].
Oleh karena itu, realisasi investasi dalam negeri tahun ini berisiko mengalami tren penurunan. Apalagi, komposisi investasi asing masih mendominasi realisasi investasi dalam negeri.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) memperlihatkan penurunan impor barang modal pada November 2012 dibandingkan bulan sebelumnya sebesar US$36,3 juta. Penurunan tersebut terus berlanjut hingga Februari 2013, berturut-turut sebesar US$254,4 juta, US$395,7 juta, dan US$41,4 juta.
Adapun, data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menunjukkan komposisi PMA terhadap keseluruhan realisasi investasi 2012 mencapai 70,6% atau Rp221 triliun dari total realisasi Rp313,2 triliun. Pada 2013, BKPM menargetkat realisasi investasi mencapai Rp390 triliun.
“Masalahnya kelesuan ekonomi dunia masih berlanjut dan ketidakpastian pasar keuangan global menyebabkan pembiayaan bagi investor asing ini berkurang,” katanya saat dihubungi Bisnis, Minggu (7/4).
Oleh karena itu, Prasetyantoko menyarankan pemerintah lebih mendorong investasi dalam negeri untuk mengkompensasi risiko perlambatan investasi asing.
Menurutnya, ada tiga hal yang bisa diupayakan, yaitu pertama suku bunga kredit dalam negeri didorong agar makin murah. Namun, lanjutnya, upaya ini terganjal oleh tingginya laju inflasi kuartal I/2013 yang mencapai 2,43% year-to-date.
“Upaya mitigasi inflasi perlu dilakukan untuk menjaga agar [inflasi] tidak melampaui batasnya, tetapi Bank Indonesia tidak boleh cepat-cepat menaikkan BI Rate walaupun inflasi kemarin tinggi,” ujarnya. Bank Indonesia menetapkan target inflasi berada dalam rentang 3,5%-5,5%, sedangkan dalam APBN 2013, target inflasi ditetapkan 4,9%.
Kedua perbaikan proses perizinan, terutama proses perizinan di tingkat daerah. Pasalnya, pengurusan investasi dalam negeri lebih banyak dilakukan di daerah.
Ketiga perbaikan infrastruktur. Dengan adanya perbaikan di tiga aspek ini diharapkan investor dalam negeri dapat meningkatkan daya saingnya.
Sementara itu, Ekonom Samuel Sekuritas Lana Soelistianingsih mengatakan penurunan impor barang modal sekarang ini merupakan siklus yang pernah terjadi di tahun lalu. Namun pada tahun lalu, impor barang modal mengalami perbaikan saat memasuki Maret.
“Siklus di tahun lalu juga ada penurunan [impor barang modal], tetapi Maret sampai Juni 2012 itu menunjukkan tren peningkatan lagi,” katanya kepada Bisnis, Minggu (7/4).
Apabila realisasi impor barang modal pada Maret 2013 tidak menunjukkan perbaikan, Lana mengingatkan agar pemerintah mewaspadai adanya perlambatan investasi ke depannya. Pasalnya, Bank Indonesia juga telah mengindikasikan terjadinya moderasi pertumbuhan investasi.
Moderasi pertumbuhan investasi tersebut, jelas Lana, akan berdampak pada pertumbuhan ekonomi dalam negeri. Pasalnya, komposisi investasi di dalam struktur produk domestik bruto (PDB) cukup besar, yaitu mencapai 33,16% pada 2012. | bisnis