JAKARTA - Menteri Kesehatan Nafsiah Mboi mengatakan, berdasar hasil MDGS Global Fund tahun 2011, angka penggunaan kondom di Indonesia tercatat masih minim. "Mereka menganggap kita kurang efektif dalam upaya pencegahan HIV/AIDS," ujar Nafsiah di kantornya, Jumat, 30 November 2012.
Penggunaan kondom di Indonesia diteliti Global Fund lewat pembagian kondom gratis ke masyarakat. Peneliti menanyai responden, apakah pernah mendapatkan kondom gratis dari pemerintah. Metode itu dianggap Nafsiah kurang pas digunakan, lantaran kurang merepresentasikan tingkat penggunaan kondom di Indonesia.
"Yang dilaporkan ke MDGS adalah kondom gratis yang dibagikan, sedangkan kita membagikan gratis hanya ke pekerja seks komersial miskin. Jumlah yang dibagikan pun hanya 15 persen atau sekitar 10 juta kondom," kata Nafsiah.
Ia menjelaskan, pemerintah memang hanya membagikan sedikit kondom gratis karena biasanya, kondom gratis kurang dihargai. Terbukti, pembelian kondom komersial cukup tinggi, yakni mencapai 145 juta kondom sejak Januari hingga Oktober 2012. Jumlah itu diperkirakan meningkat menjadi 150 juta kondom akhir tahun ini.
Berdasar data Kementerian Kesehatan, pada tahun 2011, ada 61 persen lelaki pelaku hubungan seks dengan perempuan pekerja seks komersial yang menggunakan kondom. Persentase itu menurun 7 persen dari tahun 2007. Adapun pada waria, angka penggunaan kondom pada 2011 meningkat 2 persen menjadi 80 persen, dari empat tahun sebelumnya. Sedangkan pada hubungan lelaki seks lelaki (LSL), persentase penggunaan kondom menurun 1 persen dari 2007.
Dari data itu, Nafsiah menyimpulkan lelaki berperilaku seks berisiko cenderung tak mau menggunakan kondom. Hal itu disayangkan Nafsiah, lantaran mempengaruhi jumlah anggaran yang mesti dikeluarkan pemerintah untuk mengobati penyakit yang diakibatkan seks tanpa kondom.
Saat ini, lata Nafsiah, biaya pengobatan HIV/AIDS per tahun yang mencapai US$ 65 juta ditalangi Global Fund hingga 2015. Setelah 2015, pemerintah akan menanggung biaya pengobatan HIV/AIDS menggunakan anggaran pendapatan dan belanja negara.
Diperkirakan Nafsiah, jka angka penggunaan kondom masih minim, pada tahun 2020 pemerintah mesti mengucurkan anggaran pengobatan hingga US$ 220 juta. "Makanya kalau kita tidak memanfaatkan anggaran sampai 2015 untuk berbenah, parah kita," ujarnya.
Sumber : tempo.co