TAPAK TUAN - Sekitar 2.970 hektare dari 13.400 hektare tanaman pala di Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh, mati, akibat terserang hama jenis penggerek batang dan jamur akar putih.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Aceh Selatan H A Manaf Aldy di Tapaktuan, Aceh Selatan, Kamis mengatakan, akibat serangan hama tersebut produktifitas pala mengalami penurunan sangat drastis yakni dari 1.100 Kg/Ha/tahun menjadi 444 Kg/Ha/tahun.
“Artinya, akibat terjadinya serangan hama yang begitu dahsyat tersebut, telah mengakibatkan ribuan tanaman pala milik masyarakat mati, dimana secara otomatis juga mengakibatkan menurunnya produktivitas secara rata-rata mencapai 656 Kg/Ha/tahun,” sebut Manaf Aldy.
Ia memperkirakan, akibat serangan hama yang telah memusnahkan ribuan hektare tanaman pala tersebut, masyarakat Aceh Selatan khususnya yang menggantungkan hidup atau mata pencahariannya sebagai petani pala, mengalami kerugian mencapai Rp1 miliar/bulannya.
“Kerugian materil yang dialami masyarakat Aceh Selatan akibat serangan hama tersebut cukup tinggi. Persoalan itu juga berimbas kepada menurunnya tingkat pertumbuhan ekonomi di tengah-tengah masyarakat saat ini. Jika dibandingkan disaat masih jayanya produksi pala di Aceh Selatan sejak tahun 1980 sampai tahun 1999 tingkat perekonomian masyarakat cukup sejahtera dari hasil komoditas itu,” paparnya.
Merespon persoalan serangan hama yang telah memusnahkan ribuan hektare tanaman pala milik masyarakat tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Selatan telah melakukan berbagai langkah, baik upaya pencegahan maupun rehabilitasi kembali tanaman yang telah mati.
“Untuk pencegahan, Pemkab Aceh Selatan telah menjalin kerja sama dengan Tim peneliti dari Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) Bogor dan dengan Balai Pengkajian Tekhnologi Pertanian (BPTP) Provinsi Aceh. Sejak tahun 2013 lalu, tim tersebut telah beberapa kali turun ke Aceh Selatan untuk melakukan penelitian guna mencari solusi pencegahan serangan hama pala tersebut,” katanya.
Sedangkan untuk langkah rehabilitasi tenaman yang telah rusak atau mati, ujar Manaf Aldy, Pemkab Aceh Selatan melalui sumber anggaran APBK 2014 telah menganggarkan pengadaan bibit sekitar 60 ribu batang, dan ditambah lagi sumber anggaran Otsus 57 ribu batang serta APBA sekitar 10 ribu batang.
“Kesemua bibit tersebut akan dibagikan kepada para petani di seluruh Aceh Selatan melalui kelompok tani,” ujarnya.
Ia menambahkan selain kedua langkah yang telah dipaparkan di atas tersebut, dalam rangka menambah populasi pala, Bupati Aceh Selatan HT Sama Indra SH juga telah mencanangkan sebuah gerakan yang bernama “mati satu tanam seribu” yang maknanya adalah untuk memberi semangat kepada petani supaya tanaman pala yang sudah mati tersebut segera di tanam kembali dengan tidak hanya mengharapkan bantuan dari pemerintah tapi langkah swadaya sendiri juga perlu di galakkan.
Sumber : antara