Banda Aceh - Aceh merupakan pemasok 22 persen kebutuhan pala Indonesia, yang disuplai dari Kabupaten Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, dan Simeulue. Sedangkan Indonesia merupakan pemasok 75 persen kebutuhan pala dunia.
Namun, produksi pala Aceh perlahan menurun drastis. Hal ini akibat hama dan penyakit yang telah menyerang jutaan tanaman keras tersebut sejak dua dekade terakhir.
Akibatnya, sebagian petani pala beralih ke komoditi lain karena tidak terselesaikannya permasalahan tersebut. Di samping itu, harga komoditi pala ditentukan pedagang besar.
Guna mengatasi masalah tersebut, Forum Pala Aceh (Forpala) menjajaki kerja sama dengan sejumlah lembaga internasional guna mengembangkan budi daya komoditas ekspor tersebut agar produktivitasnya bisa meningkat.
Forum Pala Aceh merupakan lembaga nirlaba yang dibentuk untuk membudidayakan dan meningkatkan produktivitas pala yang merupakan komoditas unggulan di Provinsi Aceh.
"Hingga saat ini beberapa lembaga internasional sedang kami jajaki untuk membicarakan kerja sama pengembangan produktivitas pala," kata Ketua Forum Pala Mustafril.
"Ini bukanlah pekerjaan mudah di tengah menurunnya produktivitas pala karena hama dan penyakit. Tapi, kita harus yakin karena permintaan pala dunia tidak pernah berakhir," ujar Mustafril.
Menurut dosen Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala itu, penjajakan kerja sama tersebut untuk membantu petani pala meningkatkan kapasitas produksinya.
"Kami berharap jika kerja sama ini terwujud, kapasitas petani dalam meningkatkan produktivitasnya bisa meningkat. Inilah yang diharapkan petani pala, terutama di sentra produksi di sejumlah kabupaten di Provinsi Aceh," kata Mustafril.