JEURAM - Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, menargetkan produktivitas perkebunan kelapa sawit di wilayah itu mencapai 24 ton/hektare buah tandan segar (BTS) dari 64,387 ribu hektare luas area yang terdapat di daerah itu.
Kepala Seksi Pengawasan dan Perluasan Perkebunan pada Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Nagan Raya Akmaizal di Jeuram, mengatakan, target itu ditempuh dengan mendorong produksi sawit rakyat melalui penyuluhan, pembinaan serta bantuan mulai dari prasarana hingga pengelolaan perkebunan.
"Perkebunan yang paling luas di Nagan Raya ini adalah kebun rakyat sekitar 50 persen lebih dari lahan 64 ribu hektare lebih, sehingga perlu perhatian, karena mereka masih mengelola sawit secara tradisional," katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan usai mengikuti penandatanganan nota kesepakatan Pemkab Nagan Raya dengan PT Surya Panen Subur (SPS) dalam implementasi "Corporate Social Resposibility (CSR)" di Aula Kantor DPRK setempat.
Untuk produksi sawit Nagan Raya rata-rata 20 ton/ha/tahun dikelola perusahaan sementara kebun rakyat hanya berproduksi 10-15 ton/ha/tahunnya disebabkan oleh masih tradisional.
Ia menjelaskan, di Kabupaten Nagan Raya terdapat 13 perusahaan besar mengelola perkebunan sawit dan sudah memiliki Hak Guna Usaha (HGU) sementara 125 ribu hektare perkebuan tergarap lainnya masih dalam izin prinsip dan izin lokasi.
Sementara itu, Pejabat Bupati Nagan Raya Azwir mengungkapkan, dalam hal peningkatan percepatan peningkatan ekonomi rakyat semua perusahaan di wilayah ini akan diwajibkan melaksanakan pengelolaan kebun bagi hasil (plasma) 20 persen dari luas area yang dimiliki seperti yang coba dirintis oleh PT SPS dalam nota kesepakatan tersebut.
"Dari 13 perusahaan yang ada di Nagan Raya, baru SPS ini yang mau berkerja sama dengan pemerintah daerah menggerakkan sistem perkebunan plasma untuk rakyat," tegasnya.
Lebih lanjut dikatakan, sesuai Undang-undang Nomor 18 tahun 2004 tentang perkebunan sudah menegaskan kepada seluruh perusahaan agar melaksanakan sistem kebun plasma atau program repitalisasi perkebunan.
Katanya, bila dirincikan semua perusahaan di daerah itu melakukan kebun plasma 20 persen dengan luas garapan perkebunan 64 ribu hektare lebih, maka akan ada 12,8 persen kebun plasma di daerah tersebut.
Sementara itu, Presiden Direktur PT SPS Eddy Sutjahyo menyampaikan, apa yang digerakkan oleh perusahaannya itu sebagai upaya mendorong perekonomian masyarakat lokal dengan kehadirannya di wilayah setempat.
"Tahap pertama ini kami akan membangun kebun plasma seluas 800 hektare, menyangkut lokasi dan seperti apa tindak lanjutnya nanti kami akan ikuti sebagaimana diberikan pemerintah daerah," katanya.