BANDA ACEH - Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, membuka 115 hektare area perkebunan kakao pada 2012 sebagai upaya pengembangan komoditas ekspor unggulan provinsi ujung barat Indonesia itu.
"Pada 2012 ada pengembangan kakao dengan membuka 115 hektare area baru untuk memperkuat ekonomi rakyat melalaui sektor perkebunan," kata Kasi Pengawasan dan Perluasan Area Dinas Kehutanan dan Perkebunan Nagan Raya Akmaizal yang dihubungi dari Banda Aceh, Selasa.
Selain membuka area baru, pemerintah melalui dana APBN juga memberikan bantuan bibit berteknologi unggul somatik embrio genetik (SE), pupuk serta obat-obatan sebagai perangsang menumbuhkan minat petani berbudi daya.
Ia mengatakan target produksi kakao di Kabupaten Nagan Raya secara terperinci belum dipastikan sebab perhatian khusus pengembangan kakao untuk daerah ini masih sangat kecil dibandingkan sejumlah kabupaten lain di Provinsi Aceh yang mampu menguatkan nilai ekspor.
Akmaizal menjelaskan, di Kabupaten Nagan Raya memiliki area perkebunan kakao 4.500 hektare dengan produksi pertahun rata-rata 400-500 Kg/ha, sebab itu dengan pembukaan area baru ini diharapkan produksi kakao jauh lebih meningkat.
Menurut dia, bila diperhitungkan secara acak jumlah produksi kakao di Nagan Raya bisa mencapai 19.309 ribu ton/tahun sebab hampir setiap dua kali masa panen dalam seminggu rata-rata berproduksi 40,2 ton dari produksi delapan kecamatan sentra penghasil kakao.
Ia menyebutkan, petani Nagan Raya secara rutin membabat kakao dua sampai tiga kali dalam seminggu, meskipun masih ada yang mengelola secara tradisional, namun hasilnya di sebagian kebun petani diprediksi ada yang mencapai 1,2 ton/ha.
"Bila kita pukul rata satu ton per hektare dengan area yang begitu luas, jumlah produksinya bisa saja lebih dari 100 ton/minggu," imbuhnya.
Sementara itu, Jauhari, warga Krueng Alem, Kecamatan Darul Makmur, Nagan Raya, penampung lokal keliling menambahkan, saat ini harga beli kakao kering di tingkat petani wilayah setempat Rp7.000 sampai Rp8.500/Kg.
"Tergantung pada bagaimana bentuk penjemuran oleh petani, bila kwalitasnya bagus maka harganya Rp8.000 per kilogram," katanya.
Kata Jauhari, di Nagan Raya terdapat 400 penampung lokal keliling yang setiap hari membeli kakao kering di petani dengan menggunakan sepeda motor rata-rata 200-500 Kg/hari yang kemudian dijual kembali kepada penampung besar untuk dikirim ke pasar Medan, Sumatera Utara.
Ia menyebutkan, setiap hari para agen lokal tersebut berkeliling tidak pernah sepi dari membeli kakao petani yang sudah dijemur bahkan penampung keliling dari Aceh Barat Daya (Abdya) ikut masuk membeli kakao daerah mereka itu.
Sumber : Antara-aceh