BANDA ACEH - Wakil Wali Kota Banda Aceh Illiza Saaduddin Djamal mengaku prihatin terjadinya pergeseran moral, terutama di kalangan generasi muda, sebagai akibat perkembangan teknologi informasi yang tidak terkontrol.
"Kami prihatin terjadinya pergeseran moral, terutama di kalangan generasi muda di ibu kota Provinsi Aceh ini," kata Illiza di Banda Aceh, Senin.
Menurut dia, terjadinya pergeseran moral tersebut tidak hanya dilakukan orang-orang yang punya target merusak moralitas generasi muda, tetapi juga pesatnya perkembangan era globalisasi sekarang ini.
"Kita tidak bisa menghambat globalisasi, tetapi kita harus mampu mengantisipasi efek negatif dari perkembangan zaman tersebut," ungkap Illiza.
Pemerintah, kata dia, hanyalah sebagai fasilitator agar pergeseran moral tersebut tidak berkembang semakin parah. Karena itu, dibutuhkan peran orang tua membentengi anak-anaknya dengan akhlak dan aqidah.
Kendati begitu, kata dia, untuk mengantisipasi pergeseran moralitas tersebut, pemerintah kota terus berupaya mengambil langkah-langkah konkret agar masyarakat maupun generasi muda tidak tergerus sisi negatif dari pesatnya era globalisasi tersebut.
Seperti, kata dia, melakukan upaya penguatan dari sisi religi, di antaranya akhlak dan aqidah, sehingga mereka mampu memilah mana yang baik dan mana yang tidak baik.
Kemudian, sebut dia, membentuk karakter generasi muda yang mampu berpikir positif yang harus dimulai dari keluarga dan masyarakat.
"Keluarga merupakan benteng penghambat terjadinya pergeseran moral, karena upaya tersebut bukan semata-mata tanggung jawab pemerintah kota, tetapi juga keluarga, dalam hal ini orang tua," katanya.
Selain itu, lanjut dia, penguatan akhlak dan aqidah juga harus dilakukan di sekolah-sekolah. Kalangan guru juga harus memantau perkembangan moral anak didiknya.
"Pergeseran moral ini bukan semata-mata kesalahan anak, tetapi juga ada kesalahan orang tua, yang tidak mengajarkan anaknya mana yang baik, mana pula yang tidak baik," ujar Illiza Saaduddin Djamal. | Antara