DOHA ~ Perundingan iklim internasional berakhir pada akhir pekan ini tanpa komitmen baru terkait emisi karbon atau bantuan perubahan iklim dari Amerika Serikat. Sebagian peserta merasa lega, Amerika tidak membuat kesepakatan yang sudah lemah menjadi lebih lemah.
Negara-negara lain sekarang memantau untuk melihat apakah pemerintahan Obama akan menepati pernyataannya pasca-pemilu tentang perubahan iklim melalui upaya baru untuk mengurangi emisi di negaranya, dan membuka jalan untuk target yang lebih ambisius yakni mengadopsi perjanjian iklim global baru pada 2015.
Perundingan dua pekan di Doha berakhir dengan perpanjangan Protokol Kyoto yang periode pertamanya berakhir tahun ini. Perpanjangan ini hanya akan mencakup 15 persen dari emisi global karena beberapa negara maju, termasuk Jepang dan Kanada, telah memilih keluar dan AS tidak pernah meratifikasi perjanjian itu. Komisaris Iklim Uni Eropa, Connie Hedegaard, Minggu (9/12), mengatakan negosiator AS bersikap hati-hati untuk tidak memblokir perundingan, dan menambahkan bahwa masih sulit untuk mengetahui apakah mereka benar-benar akan menanamkan modal politik dalam berkomitmen untuk kesepakatan internasional yang baru.
Dalam sebuah komentar via email pada The Associated Press, Hedegaard mengatakan dia berharap Obama akan hadir tidak hanya untuk meningkatkan kebijakan untuk masalah iklim dalam negeri tetapi juga keterlibatan AS dan kemauan untuk melakukan lebih banyak dalam konteks iklim internasional."
Negara peserta telah lama menuduh AS menghambat upaya global untuk memerangi perubahan iklim. Di antara negara-negara industri, hanya AS yang menolak Protokol Kyoto 1997, satu-satunya perjanjian yang mengikat untuk mengurangi emisi karbondioksida dan gas lainnya yang bersifat menangkap panas. Pemerintahan Bush mengatakan hal itu akan merugikan ekonomi AS dan tidak adil karena tidak memasukkan negara-negara berkembang termasuk Cina dan India. Harapan untuk kepemimpinan AS yang lebih kuat dalam pembicaraan PBB di bawah Obama pupus ketika undang-undang pembatasan emisi terhenti di Kongres. Tetapi harapan itu kembali naik pada tahun ini setelah Badai Sandy mendorong perubahan iklim kembali dalam perdebatan politik dalam negeri. Setelah terpilih kembali, Obama berbicara tentang "kekuatan destruktif dari pemanasan bumi," dan mengatakan ia berharap untuk membuka pembicaraan nasional tentang masalah tersebut.
"Saya pikir apa yang kita lihat dari AS di Doha adalah kinerja campuran," ujar Alden Meyer, dari Union of Concerned Scientists. Dia mengatakan bahwa AS adalah "hambatan utama" dalam negosiasi untuk meningkatkan perbaikan iklim untuk membantu negara-negara miskin beralih ke energi bersih dan beradaptasi dengan naiknya permukaan air laut dan dampak lain dari perubahan iklim. Di sisi lain, AS mengakui memiliki PR untuk memenuhi janji sukarela untuk mengurangi emisi sebesar 17 persen pada 2020. Persentase tersebut diukur dari tingkat emisi tahun 2005.
Beberapa pihak lega karena perunding AS tidak memblokir proposal oleh negara-negara pulau kecil untuk membahas "kerugian dan kerusakan," yang berhubungan dengan kerusakan dari bencana yang terkait dengan iklim. Negara pulau kecil yang terancam oleh kenaikan permukaan air laut telah mendorong beberapa mekanisme untuk membantu mereka mengatasi bencana dimana AS telah menolak bertanggungjawab padahal mereka adalah penghasil emisi terbesar kedua di dunia setelah Cina.
Kesepakatan Doha tidak menetapkan mekanisme tersebut, tetapi mengatakan bahwa negara-negara setuju untuk membicarakan hal itu. "Ini adalah perubahan yang signifikan dalam sikap AS dan hasil besar tak terduga untuk Doha," ujar Iain Keith, juru kampanye senior kelompok aktivis Avaaz. Dia mengatakan secara keseluruhan ada "pergeseran halus namun signifikan" di posisi AS dalam pembicaraan.
"Banyak pihak yang kecewa karena AS tidak datang ke sini dan menawarkan bantuan finansial lebih," katanya. "Tapi dengan pembahasan ‘fiscal cliff’ di Washington, tangan mereka terikat," tambahnya, mengacu pada kombinasi menjulang kenaikan pajak otomatis dan pemotongan pengeluaran pemerintah AS awal tahun depan.
Sumber: Yahoonews