BANDA ACEH - Peningkatan populasi babi hutan (sus scrofa vittatus) telah mengancam kawasan pemukiman warga gampong di Kota Banda Aceh belakangan ini.
"Kami tidak bisa berbuat banyak mengusir babi hutan yang berkeliaran tidak hanya malam tapi siang hari, sehingga membuat warga ketakutan," kata Geuchik (Kades) gampong Lampoh Daya Muchtaruddin di Banda Aceh, Senin.
Fenomena babi hutan masuk dan berkembang biak di gampong itu mulai terlihat pascabencana tsunami 25 Desember 2004.
"Banyak areal yang sebelum tsunami sebagai lahan sawah untuk tanaman padi, namun kini ditumbuhi ilalang sebagai tempat babi hutan itu berkembang biak," katanya menambahkan.
Upaya dilakukan masyarakat selama ini dengan bergotongroyong membersihkan, bahkan membakar ilalang namun itu hanya bertahan beberapa hari, kemudian tumbuh lagi.
"Dengan upaya maksimal kami lakukan, ternyata hama babi itu tidak berkurang, bahkan bertambah banyak. Sementara lahan terlantar tempat tumbuhnya ilalang itu sebagian besar milik orang lain yang tidak berdomisili di daerah kami," katanya menjelaskan.
Selama ini, Muchtaruddin menjelaskan kawanan babi hutan itu bergerombol masuk ke perkarangan rumah penduduk tidak terkecuali pada malam tapi juga siang hari.
Di ruas jalan desa, katanya berkeliarannya babi hutan juga mengancam keselamatan warga terutama bagi pengendara bermotor.
Untuk itu, ia meminta keseriusan pemerintah agar membantu mengusir babi hutan melalui program pembersihan tanaman ilalang serta pemberdayaan kembali lahan terlantar di daerah tersebut.
Selain warga gampong Lampoh Daya, hama babi hutan juga meresahkan masyarakat seperti di gampong Bitai, Lamjamee, Emperoem, Ulee Pata. Gampong-gampong itu merupakan kawasan terparah diterjang tsunami delapan tahun silam.