Beranda»Berita Umum»Ahli USGS: Jutaan orang terancam tewas akibat gempa

Ahli USGS: Jutaan orang terancam tewas akibat gempa

BISNIS ACEH
Sabtu, 23 Februari 2013 16:21 WIB

[FOTO : merdeka.com]">FOTO : merdeka.comIlustrasi

CALIFORNIA - Tsunami dahsyat yang menerjang Aceh pada 26 Desember 2004 dan menewaskan ratusan ribu orang, guncangan di Haiti yang merenggut 200 ribu jiwa, gempa besar yang meluruhkan reaktor Fukushima di Jepang Maret 2011 lalu, adalah bukti lindu sama sekali tak boleh diremehkan.

Apalagi, populasi manusia di bumi makin berkembang, termasuk di wilayah-wilayah yang rawan gempa. Sebuah studi terbaru memprediksi, 3,5 juta orang akan tewas dalam bencana gempa katastropik antara tahun 2001 hingga 2100 mendatang.

"Lebih banyak manusia di planet ini, makin besar kemungkinan terjadinya gempa bumi mematikan," kata Tom Holzer, geolog dari Badan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) di Menlo Park, California seperti dimuat LiveScience, Jumat (22/2/2026).

Kebanyakan gempa bumi sebenarnya tak membunuh, namun bangunan yang rapuh, konsentasi penduduk di lokasi yang berbahaya, menjadi faktor jatuhnya banyak korban.

Berdasarkan catatan USGS, empat gempa katastropik -- yang menewaskan lebih dari 50.000 orang -- telah terjadi sejak tahun 2001.

Dulu, sebelum tahun 1900, kejadian seperti itu hanya terjadi sekali dalam satu abad. Tujuh kali terjadi antara tahun 1900 dan 2000. Total kematian akibat lindu dahsyat sejauh ini, dalam abad ini, lebih dari 700 ribu jiwa.

Holzer dan koleganya di USGS, James Savage menganalisa catatan historis gempa sejak 856 Masehi, lalu mengkomparasikan peristiwa-peristiwa tersebut dengan estimasi jumlah penduduk saat ini.

Berdasarkan catatan mereka, diprediksi kematian akibat gempa bumi di abad ini akan menjadi 2,3 juta hingga 5 juta jiwa. Atau berdasarkan katalog, muncullah angka yang diyakini: 3,5 juta jiwa dalam 21 gempa bumi katastropik. Demikian ungkap Holzer kepada situs OurAmazingPlanet.

Rincian hasil studi ini secara detil diungkap dalam jurnal Earthquake Spectra Februari 2013.

Holzer, yang ahli soal risiko gempa di jenis tanah berbeda mengaku tertarik melakukan studi dipicu oleh pembicaraan ilmiah tentang angka kematian gempa. Terutama kaitan antara pertumbuhan total populasi global dan kematian akibat gempa.

Lebih Banyak Orang, Bukan Lebih Sering Gempa

Holzer memperingatkan bahwa peningkatan gempa katastropik tidak disebabkan makin seringnya bumi "berguncang". Namun, akibat banyak orang yang tinggal di bangunan berkualitas buruk, di daerah-daerah rawan.

"Seperti di sepanjang Himalaya, yang tinggal menunggu datangnya bencana," kata dia. "China, Timur Tengah dan banyak kota faktanya belum siap menghadapi gempa bumi."

Jika kita tak segera mengatasinya, niscaya manusia akan menyaksikan bencana yang lebih dahsyat dari yang pernah terjadi dalam sejarah.

Daerah Terpencil Juga Beresiko

Meski gempa mematikan berpotensi terjadi di perkotaan, bukan berarti daerah terpencil lantas aman.

Pada 2005, lebih dari 50.000 orang tewas ketika gempa terjadi di wilayah Kashmir, Pakistan menghancurkan sejumlah desa. Dan jangkauan luas tsunami juga bisa menyapu banyak orang di daerah yang jarang penduduknya.

USGS mencatat, sekitar 62 persen dari populasi dunia tinggal di negara-negara dengan risiko gempa signifikan.

Dalam sebuah penelitian yang diterbitkan pada tahun 2009, para ilmuwan menghitung gempa bumi dengan risiko kematian satu juta orang setidaknya bisa terjadi sekali dalam seabad. Syaratnya, jika populasi dunia mencapai 10 miliar -- PBB memprediksi jumlah sebesar itu akan tercapai pada 2083.

 

Sumber : Liputan6



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda
Close