JAKARTA - Perusahaan biasanya hanya memberikan jatah cuti pegawainya 12 hari dalam setahun. Namun, bos Virgin Group, Richard Branson, membuat sebuah pengecualian.
Dilansir dari situs pribadinya, Branson justru menawarkan kepada 170 staf pribadinya liburan tanpa batas. Artinya, mereka bisa berlibur kapan pun mereka mau dan selama yang mereka inginkan.
Isi situs yang juga dikutip BBC, Jumat 26 September 2014, memaparkan, bahkan untuk cuti liburan, para stafnya tidak membutuhkan persetujuan dari dia dan tidak perlu menginformasikan kapan mereka akan kembali dari liburan tersebut.
Ide Branson ini terinspirasi dari artikel yang disodorkan putrinya di harian Inggris, The Telegraph. Di koran itu, tertulis, rencana serupa juga telah diterapkan oleh perusahaan televisi online Amerika Serikat, Netflix.
Di Netflix, tulis Telegraph, tidak ada kebijakan cuti.
"Kini, 600 pegawai Netflix, dapat berlibur kapan pun mereka mau dan selama yang mereka inginkan. Namun, mereka harus tetap menginformasikan ke mana mereka berlibur dan memastikan pekerjaan telah selesai dikerjakan," tulis Telegraph tahun 2010 silam.
Kebijakan ini diambil, karena Netflix tidak pernah melacak berapa jam yang dihabiskan pegawainya untuk bekerja setiap hari. Sehingga, para pegawainya justru merasa heran, jika perusahaan tempat mereka bekerja merasa perlu untuk memeriksa berapa hari jumlah cuti yang dipakai setiap tahunnya.
Maka jadilah, dalam panduan perusahaan Netflix, tertulis, mereka hanya akan fokus terhadap hasil akhir pekerjaan karyawannya.
"Bukan berapa jam atau hari yang mereka habiskan untuk bekerja. Karena, mereka juga tidak memiliki kebijakan jam kerja mulai pukul 09.00 hingga pukul 17.00, maka mereka juga tidak membutuhkan kebijakan liburan," lanjut Telegraph.
Itulah, ide yang kini coba diterapkan oleh Virgin Group. Menurut Branson, justru dengan cara demikian, maka para pegawainya kembali semangat untuk bekerja dan menghasilkan kreativitas.
"Asumsinya, mereka akan berlibur ketika mereka merasa yakin 100 persen nyaman bahwa para pegawai dan tim siap untuk memperbarui setiap proyek. Absennya mereka dari kantor pun, tidak akan memberikan pengaruh negatif terhadap kantor atau karier mereka," ungkap Branson.
Sebagai contoh dari kebijakan itu, Netflix justru kian melesat di pasaran. Sejak diluncurkan tahun 1999 silam, Netflix kini telah meraih pangsa pasar lebih dari US$7 miliar. Sementara, pesaing utamanya, Blockbuster, sejak tahun 2010 lalu, dicoret dari Pasar Saham New York.
Kebijakan Branson itu, kini ditulis dalam bukunya bertajuk "The Virgin Way" yang akan segera rilis.
Kini, Virgin Groups mempekerjakan lebih dari 50 ribu orang di seluruh dunia dan beroperasi di lebih dari 50 negara. Perusahaan Branson dimulai tahun 1970 di bidang pembuatan album rekaman suara. Namun, kini perusahaan itu berkembang dan menggurita di bidang telekomunikasi, perjalanan, dan layanan keuangan.
Pada tahun 2008 silam, nilai total kekayaan perusahaannya mencapai lebih dari 5 miliar Poundsterling.
Sumber : viva