Beranda»Ekonomi»BI : Hutang luar negeri RI masih dalam batas aman

BI : Hutang luar negeri RI masih dalam batas aman

BISNIS ACEH
Minggu, 29 Desember 2013 23:17 WIB

[]">ilustrasi

LABUAN BAJO - Bank Indonesia (BI) menegaskan bahwa kondisi utang luar negeri (ULN) Indonesia--baik pemerintah maupun swasta--masih aman dan jauh dari kondisi membahayakan seperti saat krisis moneter 1997-1998. Pasalnya, dari total utang yang akan jatuh tempo pada akhir tahun ini, sekitar 80% sudah mendapatkan sumber pendanaan valuta asing (valas) dan hanya  sekitar 20% yang perlu mencari di pasar spot.

"Memamg ada di antaranya debitor harus mencari valas ke pasar. Mereka rata-rata menjual produknya ke pasar domestik, sehinggaa relatif tidak punya financing valas.  Tapi, itu hanya ada sekitar U$ 444 juta (posisi November 2013), relatif kecil. Hanya sekitar 20%. Jumlahnya kecil, jadi tidak berbahaya," ujar Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter BI Doddy Budi Waluyo di Labuan Bajo, Pulau Flores, Sabtu (28/12) malam.

Doddy mengatakan hal itu pada acara Focus Group Discussion: Economic Outlook 2014 yang diikuti sejumlah media Ibu kota. Ia menanggapi kekhawatiran sejumlah ekonom yang menilai posisi utang Indonesia perlu mulai diwaspadai, mengingatkan rasio pembayaran utang (debt to service ratio/DSR) sudah menembus 40%. Pada tingkatan itu, 40% devisa ekspor habis untuk membayar utang dan hanya 60% untuk kegiatan produktif. "Bagi kami, yang terpenting adalah adanya kemampuan membayar," ujar dia.

Lebih lanjut Doddy menjelaskan, 80% dari total utang yang akan jauh tempo pada akhir tahun setidaknya telah mendapatkan pembiayaan valas yang bersumber dari, pertama devisa hasil ekspor. Kedua, pinjaman  dari kantor pusat head quarter di luar negeri untuk sejumlah perusahaan modal asing (PMA). Ketiga, berhasil melakukan roll over. "Jadi rata-rata mereka ter-hedge secara natural," tandas Doddy.

Dalam publikasi sebelumnya BI menyebutkan bahwa ULN Indonesia pada Oktober 2013 tercatat sebesar US$ 262,4 miliar, tumbuh melambat (5,8% yoy) dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang mencapai 6,7% (yoy). Perlambatan pertumbuhan ULN terjadi baik pada sektor publik maupun sektor swasta. Posisi ULN sektor publik pada Oktober 2013 mencapai US$ 125,8 miliar atau tumbuh melambat menjadi 0,5% (yoy), dari bulan sebelumnya sebesar 2,1% (yoy). Sementara itu, posisi ULN sektor swasta tumbuh stabil dibanding bulan sebelumnya sebesar 11,1% (yoy), mencapai nilai US$ 136,6 miliar.

Berdasarkan jangka waktu, komposisi ULN jangka panjang tetap stabil mendominasi ULN Indonesia pada Oktober 2013. Posisi ULN Indonesia sebagian besar terdiri atas  ULN berjangka panjang, yaitu sebesar US$ 216,1 miliar (82,4% dari total ULN), sementara sisanya sebesar US$ 46,3 miliar (17,6% dari total ULN) merupakan ULN jangka pendek.

Dari sisi kepemilikan, peran dominan ULN jangka panjang terjadi baik pada ULN publik maupun ULN sektor swasta. ULN publik berjangka panjang mencapai US$ 118,8 miliar atau 94,4% dari total ULN sektor publik. Sementara itu, ULN sektor swasta berjangka panjang mencapai US$ 97,4 miliar atau 71,3% dari total ULN swasta.

ULN sektor swasta sebagian besar merupakan ULN swasta nonbank yaitu mencapai 83,8%, sedangkan ULN bank hanya mencapai 16,2%. Tiga sektor ekonomi terbesar ULN swasta terarah kepada sektor keuangan, persewaan, dan jasa perusahaan, sektor industri pengolahan, dan sektor pertambangan dan penggalian. Dari sisi kreditor, sebagian ULN swasta merupakan utang kepada afiliasi yaitu mencapai 34,8% dari total ULN swasta. Baik ULN swasta kepada afiliasi maupun nonafiliasi pada Oktober 2013 tumbuh sekitar 11,0% (yoy). | investor.co.id



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda

Terbaru di Ekonomi

Close