Beranda»Kolom»Pemanfaatan Manggrove untuk menambah penghasilan

Pemanfaatan Manggrove untuk menambah penghasilan

BISNIS ACEH
Selasa, 02 Oktober 2012 15:05 WIB

 

[FOTO : wartajatim.blogspot.com]">FOTO : wartajatim.blogspot.comProduk olahan dari hutan Mangrove

Sebagai daerah yang memiliki areal mangrove hampir 31 ribu hektar, sebenarnya tidak aneh kalau tidak ada program pemanfaatan mangrove yang “terdengar” di Aceh. Selama ini, program yang terkait mangrove lebih banyak diarahkan kepada tujuan konservasi dan rehabilitasi, bukan ke arah pengembangan ekonomi masyarakat. Banyak anggaran yang telah diserap untuk perbaikan mangrove yang kebanyakan dikendalikan oleh upaya menyelamatkan lebih banyak nyawa dari bencana yang datang dari laut semacam tsunami. Begitupun, untuk kepentingan mendapatkan produk-produk unggulan daerah tidak ada salahnya jika kegiatan ekonomi masyarakat pesisir juga diarahkan kepada pemanfaatan mangrove sebagai penunjang pendapatan keluarga.

Pemanfaatan hasil mangrove bukan cerita baru. Di berbagai daerah di Indonesia, mangrove telah diarahkan sebagai kawasan yang multifungsi: memberikan perlindungan, menyediakan tempat berbiak ikan, menjadi obyek wisata, sumber bahan baku industri rumah tangga dan memperbaiki kualitas air tambak. Memang, pemanfaatan pada beberapa daerah seperti di Probolinggo, Balikpapan atau Takalar, dipelopori oleh gerakan LSM yang didukung oleh pemerintah daerah. Sementara di Aceh, pemanfaatan mangrove sepertinya masih kalah jauh dengan upaya pemanfaatan kawasan lainnya.

Dalam konteks agroindustri, tentu saja mangrove menyediakan potensi yang besar sebagai bahan baku pangan alternatif, apalagi dalam perspektif diversifikasi pangan dan meningkatkan ketahanan pangan – perspektif yang harus dimiliki oleh pemerintah daerah. Buah bogem (sonneratia caseolaris), misalnya, dapat diolah menjadi sirup. Ampas dari proses pembuatan sirup diolah lagi menjadi dodol, selai dan permen. Sirup bogem diketahui mengandung vitamin C yang tinggi yaitu berkisar antara 60-70 mg dalam setiap ons. Bandingkan dengan buah kiwi yang terkenal kaya vitamin C yang memiliki kandungan senilai 70 mg per ons atau jeruk (53) pepaya (62) dan jambu biji (183). Itu artinya, kebutuhan vitamin C harian dapat disuplai melalui produk olahan buah bogem ini. Penelitian menyebutkan bahwa kebutuhan vitamin C harian orang dewasa adalah 60 – 90 mg. Selain itu, sirup bogem juga mengandung yodium yang berguna untuk meningkatkan kecerdasan balita.

Contoh lain, buah lindur (Bruguiera gymnoryza) dapat diolah menjadi tepung pengganti tepung beras karena memiliki kandungan karbohidrat yang tinggi. Daun kali-kali (Acanthus ebracteatus) dapat dibuat menjadi kerupuk setelah dicampur dengan tapioca. Daun jeruju (Acanthus ilicifolius) dijadikan minuman sekelas teh. Buah api-api (avicennia alba) juga dapat diolah menjadi bolu brownies yang enak. Gula nipah dapat menjadi pengganti gula jagung.

Dengan keuntungan yang cukup baik, masyarakat yang memproduksi produk-produk olahan mangrove akan dapat meningkatkan pendapatan sekaligus mempertahankan keberadaan mangrove di sekitar tempat tinggal mereka. Sebagaimana lazimnya sebuah produk baru, kendala yang umum muncul adalah pemasarannya. Selain karena rasanya yang baru juga promosinya yang perlu dikembangkan secara tepat. Makanan olahan yang berasal dari mangrove ini bisa disediakan dengan modal yang relatif murah. Sehingga pemasaran dan promosi saja yang akan banyak mempengaruhi harga jual. Disinilah peran pemerintah menjadi penting. Jangan berpendapat bahwa pasarnya belum tersedia sebab di era teknologi jaringan seperti sekarang ini, pasar dapat diciptakan melalui promosi. Jangan pula melulu mengandalkan pameran untuk meningkatkan promosi.

Salah satu cara promosi yang penting adalah dengan menunjukkan sikap “bangga pada produk sendiri”. Itu berarti, sebelum mengharapkan konsumen tertarik dengan suatu produk, adalah hal wajar bagi produsen untuk membiasakan dirinya menikmati produk tersebut. Begitu produk tersedia maka semua tamu pemerintah daerah diberikan kesempatan untuk mencicipi sendiri aneka produk tersebut. Pemerintah dapat membantu menyediakan areal kuliner sebagai pusat pemasaran produk-produk tersebut. Budayakan juga kegiatan yang memberikan kesempatan pejabat dan tamu pemerintah untuk berkunjung ke lokasi khusus tadi dan menikmati teh atau bolu yang dijual disana. Di kantor-kantor pemerintah, produk tersebut harus pula tersedia. Demikian pula di hotel dan penginapan di daerah sendiri. Pemeo-nya adalah kepuasan dan kebanggaan produsen menjelma menjadi kepuasan dan kebanggaan konsumen!

Saran lainnya adalah jangan melulu berfikir untuk mendatangi pembeli tetapi mulailah berfikir untuk mendatangkan pembeli. Itu artinya, alih-alih mencari pembeli ke luar daerah sendiri, pemerintah dapat mengundang pembeli untuk mendatangi daerah kita. Selain untuk keperluan jual-beli produk mangrove tadi, para pembeli tersebut dapat diajak berwisata atau belanja produk lain dari daerah. Dengan kata lain pemerintah tidak perlu susah payah memperbaiki jalan agar produk dapat dipasarkan keluar daerah tetapi harus memperbaiki jalan agar pembeli datang ke daerah. Promosi menjadi kunci utama dalam hal ini. Melalui Badan Promosi, pemerintah daerah dapat memainkan peran kunci dalam pemasaran produk olahan mangrove ini. Sehingga dalam waktu yang akan datang, para pelancong yang datang ke Aceh dapat bercerita tentang produk yang tersedia disini: makanan olahan dari mangrove.

Daripada memikirkan rencana untuk memberikan konstribusi Rp 1 juta untuk setiap keluarga di Aceh, tentu lebih baik memikirkan rencana untuk meningkatkan pendapatan keluarga di Aceh sebesar Rp 1 juta per bulan.

 

Penulis : Fahmi Rizal - Kolumnis



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda
Close