Beranda»Keuangan & Perbankan»Perbankan Indonesia paling menguntungkan sejagat

Perbankan Indonesia paling menguntungkan sejagat

BISNIS ACEH
Rabu, 06 Februari 2013 16:23 WIB

[FOTO : Ist]">FOTO : Istilustrasi

JAKARTA - Bank-bank di Indonesia dinilai meraup untung paling banyak di dunia. Menurut data Bloomberg, tingkat pengembalian modal perbankan di Indonesia mencapai 23 persen, tertinggi di dunia.

Tingkat pengembalian modal di Indonesia, menurut Bloomberg, lebih tinggi dibanding India yang hanya 21 persen dan Amerika Serikat di level 9 persen.

Direktur Riset Ekonomi Grup Departemen Ekonomi dan Kebijakan Moneter Bank Indonesia Endy Dwi Tjahjono mengakui bahwa saat ini margin keuntungan bersih (net interest margin/NIM) perbankan di Indonesia terlalu tinggi. NIM adalah perbandingan antara perolehan bunga bank dibandingkan dengan kewajiban bank untuk menyetor bunga ke penanam dana.

Perolehan pendapatan bunga bank didapat dari cicilan kredit pinjaman. Sementara kewajiban bank untuk membayar bunga adalah pembayaran bunga untuk nasabah bank, deposito, giro dan produk lain. Suku bunga kredit yang tinggi dan bunga deposito dan bank yang rendah membuah perbankan meraih NIM yang tinggi.

"Bank kita NIM-nya dibandingkan negara lain terlalu tinggi. Harusnya masih perlu diturunkan," kata Endy di Hotel J.W Marriott, Rabu (6/2). Data Bank Indonesia dalam Statistik Perbankan Indonesia menunjukkan rata-rata NIM perbankan Indonesia berada di level 5,48 persen per November 2012.

Dia berpendapat, NIM di Indonesia masih bisa diturunkan. "Kalau NIM diturunkan, maka investor akan mudah untuk investasi. Selain itu, bisa juga meningkatkan persaingan antar bank," ujar dia.

Secara terpisah, Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Mirza Adityaswara mengatakan terdapat dua hal yang memungkinkan NIM menjadi tinggi. Hal pertama, kata Mirza, adalah biaya dana (cost of fund/CoF) yang rendah. Yang kedua adalah suku bunga kredit yang tinggi.

"Sektor yang kurang kompetisi, dia (bank) kasih bunga kreditnya tinggi. Sektor yang belum banyak kompetisi, kredit mikro, berapa bunganya? Masih 20 persen - 30 persen. Jadi tambahlah orang kompetisi masuk di kredit mikro. Dengan sendirinya persaingan membuat bunga kredit mikro turun," kata Mirza di Hotel J.W Marriott, Rabu (6/2).

Mirza berpendapat, kurang tepat apabila kinerja perbankan hanya dinilai dari tingginya NIM. Menurut Mirza, fungsi intermediasi perbankan harusnya menjadi acuan penilaian dari kinerja sektor perbankan.

"Kalau bank itu tidak menyalurkan kredit, kalau bank itu hanya beli SBI, nah itu bisa disalahkan. Misalnya, NIM nya tinggi tapi hanya beli SBI," tegas Mirza.

 

Sumber : Merdeka



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda

Terbaru di Keuangan & Perbankan

Close