JAKARTA – Pengembangan kawasan industri di luar pulau Jawa semakin gencar seiring rencana pemerintah menjadikan provinsi Aceh sebagai pusat industri hilir rotan dan pariwisata pada tahun ini.
Dedi Mulyadi, Direktur Jenderal Pengembangan Perwilayahan Industri Kementerian Perindustrian, mengatakan penjajakan untuk menjadikan Aceh, tepatnya di kawasan Kabupaten Aceh Besar dan Sabang, sebagai kawasan industri terus dilakukan.
“Kami terus memfasilitasi pemerintah dan pengusaha setempat untuk menjadikan daerah tersebut sebagai kawasan industri. Memang harus ada klaster dan juga tokoh utama penggagasnya,” ujarnya, Selasa (1/1).
Dia menjelaskan beberapa pengusaha lokal telah diajak berdiskusi mengenai rencana detail tata ruang di kedua lokasi tersebut dan juga tentang sektor industri apa yang berpotensi untuk dikembangkan di sana.
Menurutnya, kawasan Kabupaten Aceh Besar yang dekat dengan pelabuhan Malahayati dan bandara Sultan Iskandar Muda akan dijadikan sebagai basis industri hilir rotan dan sawit yang menjadi komoditi utama di daerah tersebut.
Rotan, lanjutnya, merupakan produk andalan di Kabupaten Pidie karena mampu diproduksi dalam skala besar, sementara perkebunan sawit juga terhampar luas di sepanjang pesisir barat daerah Serambi Mekkah tersebut.
“Awalnya Sabang ingin dijadikan kawasan industri manufaktur, tetapi kami mengusulkan agar kawasan tersebut dijadikan basis industri pariwisata,” katanya.
Dia berpendapat agak sulit mengembangkan sektor manufaktur di pulau kecil yang terletak di ujung barat Indonesia tersebut karena ketersediaan air dan sumber daya alam pendukung lainnya masih sangat minim.
Dedi menjelaskan Sabang sangat potensial di sektor pariwisata dan dapat mendatangkan pendapatan mencapai ribuan dollar Amerika Serikat dengan pembangunan pelabuhan lebih besar untuk persinggahan kapal pesiar.
“Sabang punya pantai dan perairan dengan terumbu karang yang bagus. Jika dikembangkan sehingga ada kapal pesiar yang singgah secara rutin, dapat dibayangkan berapa besar pendapatan daerah yang diperoleh,” ujarnya.
Saat ini, lanjut Dedi, sekitar 50 hektare lahan di Aceh Besar disiapkan untuk dijadikan kawasan industri, tetapi kendala yang dihadapi pihaknya adalah menemukan seorang tokoh yang serius dengan rencana tersebut.
Menurutnya, posisi Kemenperin hanya memfasilitasi keinginan pemerintah daerah yang saat ini sudah berlaku otonomi khusus sehingga kekuasaan dan keputusan sepenuhnya berada di tangan mereka.
Selain di Aceh, sejumlah wilayah lain di pulau Sumatera juga sedang disiapkan untuk dijadikan kawasan industri baru karena posisinya yang strategis yakni dilalui selat Malaka sehingga proses transportasi hasil industri dapat dilakukan melalui jalur laut.
Beberapa kawasan industri yang direncanakan untuk dikembangkan adalah Tanjung Buton di Kabupaten Siak, Riau, sebagai industri penunjang operasi migas, sementara di utara pulau Bangka, yakni Tanjung Ular, akan menjadi pusat hilirisasi timah.
“Di Tanjung Enim, Sumatera Selatan, akan dijadikan pusat hilirisasi gasifikasi batubara. Nantinya di Teluk Semangka, Lampung, akan menjadi kawasan industri maritim. Mungkin industri yang di Cilegon akan ekspansi ke sana,” ujarnya.
Sumber : Bisnis