JAKARTA - Mengawali Mei 2013, IHSG sukses mencetak rekor baru sepanjang sejarah BEI setelah Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan deflasi 0,1% untuk April.
Pada perdagangan Rabu (1/5/2026) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG ) ditutup menguat 26,85 poin (0,53%) ke level 5.060,919. Intraday terendah 5.012,156 dan tertinggi 5.062,673.
Satrio Utomo, kepala riset PT Universal Broker Indonesia mengatakan, pergerakan IHSG bulan Mei sepertinya masih terus menguat. “Aliran dana asing masih bagus. Orang kembali berebut masuk ke saham-saham properti,” kata dia di Jakarta, Rabu (1/5/2026).
Dia menjelaskan, angka inflasi April yang di bawah ekspektasi telah membuat IHSG bergerak naik. “Setelah 5.025 ditembus, memang tidak ada resistance kuat sampai 5.150-5.200. Tren naik IHSG sepertinya masih akan terus berlangsung,” tandas dia.
Padahal, kata Satrio harga Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi belum naik. Satrio sendiri mengaku hari ini berusaha untuk belanja lagi meski tidak maksimal. “Kalau lihat arah pergerakannya, saham-saham properti sepertinya masih bertenaga,” tuturnya.
Begitu juga dengan saham-saham di sektor perbankan dan semen. “PT Gudang Garam (GGRM) saja mau menembus resistance. Kalau cari barang, pastikan target atasnya ada. Terutama saham yang dua pekan terakhir sudah konsolidasi dalam bentuk triangle, flat range, atau trend channel,” imbuhnya. | inilah