BANDA ACEH - Kabupaten Aceh Utara, Provinsi Aceh, pada 2013 akan mengembangkan tanaman kedelai seluas 1.500 hektare di sejumlah daerah potensial guna meningkatkan produksi salah satu komoditas palawija tersebut.
Kasi Pengembangan Produksi Padi dan Palawija Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Peternakan Kabupaten Aceh Utara Zulkifli di Lhokseumawe Kamis mengatakan, pengembangan tanaman tersebut juga untuk memenuhi permintaan industri kecil tahu dan tempe.
"Yang penting pengembangan tersebut adalah untuk mengoptimalisasi lahan tidur, sehingga bisa menjadi produktif dan menguntungkan masyarakat, karena menambah penghasilannya," ujarnya.
Ia menambahkan, program pengembangan kedelai seluas 1.500 hektare tersebut anggarannya berasal dari APBN dengan pola pengembangan tanaman melalui sistem Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SLPTT), di mana setiap satu demplot terdiri atas 10 hektare.
Menurut Zulkifli, benih akan diprioritaskan ke sejumlah daerah dalam wilayah Aceh Utara yang selama ini potensial mengembangkan kedelai, seperti di Kecamatan Geurudong Pasee, Sawang, Nisam dan beberapa kecamatan lainnya.
"Penanaman kedelai saat ini di wilayah Aceh Utara lebih intensif dilakukan di daerah pegunungan, terutama pada lahan-lahan produktif di pinggiran hutan," ujarnya.
Ia menyatakan, sebelumnya petani di Aceh Utara banyak menanam di lahan sawah setelah panen padi dengan cara selingan. Namun, karena harga gabah semakin baik, maka petani lebih mengoptimalkan lahan sawahnya untuk menanam padi, sehingga kedelai menjadi kurang begitu menarik.
"Akibat dari perubahan pola budidaya tersebut, untuk penanaman kedelai di Aceh Utara banyak dilakukan di wilayah agak ke pegunungan," ujarnya.
Ia menyebutkan, bantuan bibit kedelai di Aceh Utara setiap tahun dilakukan sehingga secara ekonomi mampu membantu petani.
"Namun secara produksi, sulit diprediksikan, karena petani lebih banyak menjual kedelainya dalam keadaan masih muda (kedelai rebusan), jika dibandingkan dengan panen tua,"
Sumber : Antara