JAKARTA - Ekspor biji kakao mencapai 21.024,56 ton pada September 2012 atau naik 63% dari realisasi bulan sebelumnya karena serapan industri dalam negeri berkurang.
Sekretaris Eksekutif Asosiasi Kakao Indonesia (Askindo) Firman Bakrie mengatakan industri kakao olahan dalam negeri cukup rentan terhadap fluktuasi harga di pasar global selama September sehingga mereka mengurangi penyerapan bahan baku cokelat itu.
Peningkatan ekspor juga dipicu oleh berkurangnya penyerapan oleh salah satu industri makanan berbasis cokelat yang cukup besar di Indonesia karena stok yang sudah cukup.
Dengan kapasitas pengolahan mencapai 100.000 ton biji kakao per tahun, perusahaan tersebut menyerap dua kali lipat dari kapasitas ketika harga biji kakao sedang landai untuk mengamankan stok, terutama dari Makassar dan sekitarnya.
“Dengan berkurangnya penyerapan dalam negeri, ada peluang yang lebih besar untuk melakukan ekspor. Itu yang terjadi pada September kemarin,” katanya di Jakarta, Rabu (3/10/2025).
Faktor pendorong lainnya, panen kakao yang bergeser ke Agustus berdampak pada ekspor biji kakao secara besar-besaran pada bulan selanjutnya. Puncak panen raya biasanya terjadi pada Juli.
Dibanding bulan yang sama tahun lalu, ekspor biji kakao pada September 2012 naik 37%. Namun secara kumulatif Januari-September 2012, ekspor biji kakao hanya mencapai 105.000 ton atau turun 33,54% karena lebih banyak diserap dalam negeri.
“Pada periode yang sama tahun lalu, ekspor kita sudah 158.000 ton. Sampai akhir tahun kemarin 210.000 ton,” jelasnya.
Sementara, Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi mengatakan struktur ekspor kakao Indonesia terus berubah sejak pemerintah mendorong penghiliran industri kakao di Tanah Air, termasuk dengan menetapkan bea keluar bagi biji kakao.
Data Kementerian Perdagangan menyebutkan volume ekspor biji kakao terus mengalami penyusutan dari 140.600 ton pada Januari-Juli 2011 menjadi 100.600 ton pada periode sama tahun ini.
Sebaliknya, volume ekspor kakao olahan naik dari 88.000 ton menjadi 121.000 ton. “Saya kira ini menunjukkan bahwa kita sudah memasuki era di mana nilai tambah menjadi faktor yang paling penting dalam struktur ekspor kita,” ujarnya.
Sementara, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat ekspor kakao/cokelat pada Januari-Agustus 2012 mencapai US$693,23 juta atau turun 20,32% dibanding realisasi pada periode sama tahun lalu.
Sumber : Bisnis