JEURAM - Pemerintah Kabupaten Nagan Raya, Provinsi Aceh, optimistis akan menjadi satu-satunya sentra produksi terbesar kelapa sawit, karena memiliki lahan seluas 19.685 ribu hektare dengan produksi 24 ton/hektare.
Kepala Dinas Kehutanan dan Perkebunan Nagan Raya H T Zainal Abidin di Jeuram, Rabu, mengatakan dari luas 19.685 hektare itu 121 ribu hektare lebih dikelola 13 perusahaan perkebunan dan 75 ribu hektare lebih dikelola masyarakat secara tradisional.
"Sangat memungkinkan Nagan Raya menjadi sentra produksi sawit, karena di Provinsi Aceh hanya Nagan Raya yang memiliki potensi dan lahan sawit begitu besar," katanya.
Didampinggi Kepala Seksi Pengawasan dan Perluasan Area Perkebunan Akmaizal, ia menjelaskan lahan sawit Nagan Raya yang berproduksi aktif dan berkelanjutan seluas 64.387 hektare dengan produksi mencapai 24 ton/hektare yang dikelola perusahaan, dan 50 persen area itu dikelola masyarakat.
"Namun secara menyeluruh Nagan Raya memiliki hampir 20 ribu hektare lahan sawit," ujarnya.
Dalam rintisan menjadi sentra produksi sawit di provinsi paling ujung barat Indonesia ini, ia menyatakan pihaknya mendorong 13 perusahaan perkebunan besar untuk melakukan revitalisasi serta pembenahan lahan kemudian masyarakat diberikan bantuan serta pembinaan budidaya tanaman sawit modern.
Menurut dia, di Nagan Raya masih cukup banyak lahan hak guna usaha (HGU) perusahaan yang dulunya ditelantarkan, dan saat ini sedang dalam pembenahan kembali untuk memperluas area kebun serta memudakan kembali komoditas andalan daerah itu.
"Seperti PT Surya Panen Subur (SPS) satu yang memiliki lahan HGU 6.500 hektare, mereka sudah menggarap sekitar 4.000 hektare dan saat ini sedang melakukan pembenahan kembali serta memanfaatkan maksimal yang belum tergarap agar tidak bermasalah dengan masyarakat," katanya.
Lebih lanjut ia mengatakan, pemerintah kabupaten saat ini menunggu turunnya izin dari pemerintah pusat terkait izin pembangunan pelabuhan ekspor CPO yang saat ini sedang dalam tahap pembersihan fisik lokasi di Kuala Tripa, Kecamatan Tripa Makmur, setelah mendapat izin dari Pemerintah Provinsi Aceh.
Menurutnya, produksi sawit TBS perusahaan perkebunan Nagan Raya 24 ton/hektare secara berkelanjutan menghasilkan 750 ribu ton/tahun dengan rendemen 24 persen dan mampu mengeluarkan 950 ribu ton/tahun crude palm oil (minyak sawit mentah/CPO), jumlah ini sudah layak untuk ekspor.
"Selama ini, para pengusaha mengekspor melalui pelabuhan Jetti Meulaboh (Kabupaten Aceh Barat) dan pelabuhan Susoh di Blang Pidie (Kabupaten Aceh Barat Daya), padahal penghasil CPO terbesar itu dari Nagan Raya," katanya.
Sumber : Antara