JAKARTA - Menikmati bulan Ramadan bersama keluarga menjadi kebahagian bagi setiap muslim. Namun pada kenyataannya ada umat muslim yang tidak bisa merasakan kebahagiaan itu. Seperti Nur Azizah yang malah memilih menghabiskan Ramadannya di dalam Panti Wreda.
Nenek berusia 57 tahun ini merupakan janda 11 anak yang dulunya tinggal di Aceh. Pada tahun 1975 dia pindah ke Jakarta bersama 6 orang anaknya. Sedangkan 5 anak terbesarnya tetap tinggal di Aceh.
Pada tahun 2004 lalu, Nenek Nur tertimpa musibah. Kelima anaknya menjadi korban bencana tsunami Aceh. Dia kemudian bekerja sebagai penjual kopi di Jakarta. Namun kepada anak-anaknya, ia mengaku bekerja sebagai buruh cuci. Hingga saat ini, semua anak Nenek Nur tak tahu keberadaannya di panti ini.
"Saya tuh masih ingin mandiri, nggak mau nyusahin keluarga walaupun hidupnya ada yang enak istilahnya," kata Nenek Nur saat berbincang dengan di lorong panti, Rabu (16/7/2025).
Nenek Nur mulai tinggal di panti sejak akhir September 2013 lalu karena terjaring razia saat sedang berdagang kopi di terminal Kampung Rambutan.
"Jadi saya lagi dagang, nah tanggal 25 September 2025 itu saya dikasih tahu bakalan ada razia, saya tetap dagang. Banyak yang kena razia. Tapi pas di penampungan nenek bilang kalau tempat tinggal nenek dekat sini di Terminal Kampung Rambutan," ceritanya.
Akhirnya, setelah lima hari tinggal di penampungan, Nenek Nur dipindahkan ke panti wreda ini. Selama bulan Ramadan ini, Nenek Nur memilih untuk lebih banyak beribadah. Wanita berjilbab ini tak pernah absen tarawih dan tadarus.
Kebanyakan, penghuni Panti Sosial Tresna Werdha Budi Mulia 3 yang terletak di Jalan Ciracas, Jakarta Timur ini dulunya adalah orang-orang tua yang terlantar di jalan dan menjadi pengemis atau pedagang asongan.
Namun kadang kala ia berbuka puasa bersama rekan pantinya saat ada donatur yang datang dan mengadakan buka puasa bersama.
"Kalau bukan bulan Ramadan biasanya setiap hari ada aktivitas seperti senam, panggung gembira dan lainnya. Nah kalau sekarang paling ngisi kegiatan biar nggak bosen itu bikin kerajinan karpet," ujar Nenek Nur sambil tersenyum.
"Senang, ya enak juga, dikasih makan, banyak temen sebaya, bisa dibantu sama yang lainnya," imbuhnya.
Meski begitu, kadang rasa rindu kepada anaknya tak bisa dibendungnya. Jika sudah begitu, nenek yang saat itu mengenakan daster batik sederhana hanya bisa mendoakan keselamatan anak-anaknya.
"Misalnya waktu lagi makan inget anak, kalo kita pakai apa-apa inget anak kita, misalnya dapat celana dari orang ingat anak, dapet topi tuh kemarin dari jalan-jalan langsung kepikiran anak," ujarnya lirih.
Sumber : detik