Beranda»Berita Umum»Dibantu temannya dari Aceh, Budi jadi hafiz tunanetra yang tak ingin buta akhirat

Dibantu temannya dari Aceh, Budi jadi hafiz tunanetra yang tak ingin buta akhirat

BISNIS ACEH
Rabu, 23 Juli 2014 15:08 WIB

[Foto : detik]">Foto : detikBudi

JAKARTA - 28 tahun silam, seorang bocah laki-laki berusia delapan tahun bermain-main di sekitar pabrik dekat rumahnya. Bersama teman-teman sebayanya yang lain, ia menghabiskan waktu di saluran pembuangan limbah sebuah pabrik tekstil yang berjarak kurang lebih 15 meter di depan rumahnya.

Bocah kecil itu, yang masih polos dan penuh rasa ingin tahu, tidak paham bahwa air yang mengalir dari saluran itu adalah cairan limbah. Tanpa disadari, cairan limbah itu mengenai matanya.

Sang bocah pun harus menerima kenyataan pahit atas insiden ini. Setiap hari penglihatannya semakin memburuk. Apa-apa yang ditangkap matanya hanya sebatas bayangan buram. Lama kelamaan, penglihatannya pun hilang total.

Budi Santoso, namanya. Kini Budi sudah berusia 36 tahun, kejadian kala itu menjadi titik balik dalam kehidupannya.

Ditemui di Yayasan Taman Tunaetra Raudlatul Mukfifin, Serpong Tangerang, Budi menceritakan waktu kecil dia tumbuh dalam keluarga yang biasa saja, tidak terlalu agamis.

“Ngaji sih ngaji. Tapi ya begitu-begitu aja. Bertahun-tahun ngaji nggak selesai-selesai,” kata Budi, Senin (21/7/2025).

Setelah kejadian itu, Budi akhirnya menyadari bahwa nikmat penglihatan sungguh besar nilainya untuk kebahagiaan di dunia. Selain itu penglihatan juga bisa menjadi salah satu hambatan baginya mempelajari ajaran agama lebih dalam. Misalnya saja, akibat kebutaan yang dideritanya dia tidak dapat membaca Alquran lagi.

Akhirnya, salah satu teman sepermainannya dulu membantu Budi mengaji melalui pendengaran. Temannya yang berasal dari Aceh itu melafalkan ayat suci Alquran, kemudian Budi mengulangnya kembali. Hasilnya, saat itu Budi mampu menghafal Alquran sebanyak 3 Juz.

Tapi Budi sadar, cara mengajinya tak bisa seperti itu saja. Ia harus bisa membaca Alquran karena tidak selamanya ingatannya bisa terus bagus. Itulah yang membuat ia memutuskan untuk belajar membaca Alquran Braille oleh salah satu guru di SLB A tempat ia bersekolah, R. Halim Soleh.

Tempat belajar Alquran Braille oleh R. Halim Soleh berada di Yayasan Raudlatul Mukfifin, di mana Budi kini menjadi salah satu pengurusnya. Saat itu, tahun 1992, Yayasan Raudlatul Makfufin masih berada di Kertamukti, Ciputat. Budi yang saat itu masih berusia 15 tahun, dilarang kedua orangtuanya untuk belajar di sana. Bagaimana tidak, sebelumnya, Budi memang tidak pernah pergi sendirian. Ia selalu ditemani salah satu anggota keluarga sejak tidak mampu melihat lagi.

“Tapi saya kepingin. Akhirnya dari 1992-1994 itu saya timbang-timbang. Tapi nggak boleh sama orangtua saya. Saya sampai sakit tuh, tifus,” cerita Budi yang siang itu mengenakan kaos abu-abu.

Setelah sembuh dari tifus selama hampir dua tahun, akhirnya Budi memberanikan diri untuk pergi ke Yayasan Raudlatul Makfufin seorang diri dari rumah. Untuk pertama kalinya ia naik angkot sendiri dan menggunakan tongkat untuk membantunya berjalan.

“Sampai di sana saya juga bingung mau apa, mau nemui siapa. Untung ada temen saya yang duluan masuk sana, bantuin ngomong ke guru di sana. Ya udah, setelah itu saya minta orangtua saya datang, dan akhirnya diperbolehkan," katanya.

Di sana selain belajar membaca Alquran Braille, Budi juga meneruskan pendidikannya yang terhenti karena sakit tifus yang pernah menyerangnya. Sakit tifus kala itu membuat ia hampir tidak mengenali orang-orang sekitarnya dan kehilangan kesadaran. Akhirnya, di yayasan khusus penderita tunanetra itu, ia mampu menamatkan pendidikan sekolah menengah pertamanya.

Kini, Budi mengabdi untuk yayasan tersebut. Ia menjadi pengajar sekaligus pengurus yayasan. Ada satu hal yang ia pegang teguh sehingga ia tetap loyal pada yayasannya tersebut, yakni Surah Thaahaa ayat 124-126 yang berbunyi:

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta. Berkatalah ia: "Ya Tuhanku, mengapa Engkau menghimpunkan aku dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya adalah seorang yang melihat?".

Allah berfirman: "Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu (pula) pada hari ini kamupun dilupakan"

“Saya tidak mau di dunia ini sudah buta, terus di akhirat buta juga. Kita sudah merasakan bagaimana buta di dunia, jadi jangan sampai di akhirat kita dibutakan juga,” kata Budi mengakhiri obrolan.

 

 

 

 

 

 

 

Sumber : detik



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda
Close