BANDA ACEH - Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Aceh, Drs Ibnu Sa’dan MPd menegaskan, di Aceh dan provinsi lainnya di Indonesia, Hari Raya Idul Adha jatuh pada hari Minggu (5/10) mendatang. Hal ini didasarkan atas hasil rukyat (pengamatan terhadap bulan) yang sudah dilakukan pemerintah pusat pada akhir Zulkaidah atau bertepatan dengan tanggal 25 September lalu.
“Setelah dilakukan rukyat di Jakarta, bulan tidak tampak, maka pemerintah menetapkan Hari Raya Idul Adha pada 5 Oktober 2014,” kata Ibnu Sa’dan di Banda Aceh, Rabu (1/10) malam. Kakanwil Kemenag Aceh itu dihubungi untuk mendapatkan kepastian karena dalam sepekan terakhir mencuat keraguan bahkan dualisme di tengah masyarakat Aceh terhadap kepastian hari “H” Idul Adha, apakah tanggal 5 atau justru 4 September. Soalnya, Kerajaan Arab Saudi telah menetapkan Idul Adha jatuh pada hari Sabtu (4/10), sementara perbedaan waktu antara Arab dengan Indonesia (WIB) hanya empat jam saja. Di sisi lain, sebuah ormas Islam berpengaruh di Indonesia sudah menyerukan kepada kadernya untuk merayakan Idul Fitri pada 4 Oktober.
Menurut Ibnu Sa’dan, ini bukan kali pertama perayaan Idul Adha berbeda antara Pemerintah Indonesia dengan Pemerintah Arab Saudi. “Jadi, supaya lebih aman, masyarakat ikut pemerintah saja sebagai tempat rujukan kita. Apabila salah, maka salah pemerintah,” imbuhnya.
Sebagaimana diberitakan, Kerajaan Arab Saudi telah menetapkan Hari Raya Idul Adha jatuh pada Sabtu (4/10), seiring dengan pelaksanaan wukuf di Arafah yang menjadi puncak haji, sekaligus Haji Akbar pada Jumat (3/10), seperti terjadi pada tahun 2006.
Mahkamah Agung Arab Saudi mengeluarkan pengumuman tentang Hari Raya Idul Adha itu setelah sejumlah orang melihat bulan sabit pada Rabu (24/9), sehingga 1 Zulhijjah 1435 Hijriah dinyatakan jatuh pada hari Kamis (25/9).
Sementara itu, hingga tadi malam masih ada pihak di Aceh yang ragu mengenai jadwal pasti Idul Adha tahun ini, apakah 4 atau 5 Oktober. Salah satu yang ragu itu adalah Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat (Isra) Setda Aceh.
Kepala bironya, Drs Ilyas Nyak Tuy yang dihubungi tadi malam mengaku pihaknya masih menunggu pengumuman resmi dari pemerintah pusat--dalam hal ini Menteri Agama--tentang penetapan Hari Raya Idul Adha 1435 Hijriah.
Karena keraguan itu pula, sehingga Biro Isra Setda Aceh mengundang khatib shalat Ied dari Jawa Timur dengan memintanya datang ke Banda Aceh pada hari Jumat (3/10) sore. “Ini sebagai antisipasi, kalau ternyata Idul Adha tanggal 4 Oktober, berarti ustaz yang kita undang memang sudah duluan tiba satu hari di Banda Aceh. Lagi pula pada 4 Oktober subuh beliau diundang jadi penceramah di Masjid Oman, Lampriek,” kata Ilyas tadi malam.
Ilyas menyebutkan, dai yang diundang Pemerintah Aceh sebagai khatib pada shalat Ied di Blangpadang, Banda Aceh, tahun ini adalah Ustaz Muhammad Shaleh Drehem Lc.
Muhamamd Shaleh Drehem merupakan Ketua Ikatan Dai Indonesia (Ikadi) Provinsi Jawa Timur. Lahir di Sumenep, Madura, tanggal 10 November 1963, Kiai Shaleh meraih gelar licence (Lc) dari Universitas Imam Muhammad bin Saud Arab Saudi. Ia juga Pendiri Yayasan Syafa’atul Quran Indonesia (YAQIN), pegiat dakwah qurani di Jawa Timur, dan penceramah tetap di sejumlah radio dan televisi nasional.
Sedangkan yang akan bertindak sebagai imam shalat Ied dimaksud adalah Ustaz Munawir Darwis, Imam Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh. Tema khutbah kali ini adalah Meneladani Akhlak dan Pengorbanan Nabi Ibrahim dan Keluarganya.
Pemerintah Aceh, menurut Ilyas, melalui Biro Isra serta Panitia Peringatan Hari-hari Besar Islam (PPHBI) Aceh sudah menghubungi Ustaz Saleh Drehem dan Ustaz Munawir Darwis, keduanya menyatakan bersedia.
Menurut Ilyas Nyak Tuy, sebagaimana yang sudah-sudah, shalat Ied tetap dilaksanakan di Lapangan Blangpadang. Tapi apabila pagi itu turun hujan, maka shalat Iednya dialihkan ke Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh.
Sumber : serambinews