Follow Us
Beranda / Berita Umum / Enang-enang Aceh, suguhkan jurang menganga dengan tebing curam

Enang-enang Aceh, suguhkan jurang menganga dengan tebing curam

Reporter: BISNIS ACEH
  | Senin, 28 Januari 2013 16:15 WIB

[FOTO : tribunnews.com]">FOTO : tribunnews.comIlustrasi jalan Enang-enang

BIREUEN - Enang-enang, nama sebuah kawasan yang senantiasa harus dilewati jika ingin mengunjungi kota dingin Takengon, Kabupaten Aceh Tengah, Aceh. Lintasan ini dikenal bukan karena pesona alam atau kehebatan lainnya, melainkan medan yang terjal, mendaki, licin dan pemandangan jurang di kiri-kanan badan jalan.

Suguhan jurang menganga dengan tebing curam di bawahnya kian menggusarkan siapa saja yang mau bertandang ke Takengon. Kendati ketakutan dan kekhawatiran itu terbayar nantinya dengan suguhan panorama alam luar biasa, tak urung banyak warga, terutama pemula, yang membatalkan niat bila harus datang ke sana.

"Saya dua kali mendapat undangan pelatihan, tapi kedua-duanya saya tolak dengan alasan Enang-enang (sering disebut masyarakat pesisir Aceh inang-inang)," sebut Emilia, seorang aktivis asal Bireuen.

Ketakutannya bukan tanpa sebab. Dia kerap mendengar cerita seputar medan berat yang harus dilalui kendaraan yang melambat sehingga mengurungkan niatnya untuk datang. Tak hanya pemula, sejumlah sopir angkutan barang maupun orang yang mengaku jago mengemudikan kendaraan, bakal ciut nyalinya setiap melintasi Enang-enang.

"Begitu deg-degan sampai Enang-enang, langsung ingat akan sampai ke tujuan (Takengon), sehingga menghibur perasaan yang galau juga," tambah Emilia.

Melewati kawasan itu memang harus ekstra-hati-hati. Sedikitpun lengah, akibatnya bisa fatal: kendaraan bisa masuk jurang-jurang menganga. Selain jurang, padatnya pepohonan tua kian menyeramkan ketika melewati jalur itu.

"Melintasi Enang-enang tidak bisa lengah atau mengantuk, sedikit saja bisa-bisa terjun ke bawah," ujar Budi, seorang sopir L300 yang beroperasi dari Bireuen ke Takengon.

Kehati-hatian para sopir angkutan tidak saja terjadi di malam hari, siang hari pun mereka harus memperlambat laju kendaraan jika ingin selamat sampai tujuan.

Bukan tak ada jalur alternatif lain jika ingin pergi ke Aceh Tengah. Namun tanpa melintasi Enang-enang yang menjadi jalur utama Jalan Negara, jalur alternatif memotong ke perkampungan penduduk juga rawan kecelakaan karena belum teraspal baik.

 

Sumber : Kompas


Komentar Anda