Beranda»Wisata»Ranub Lampuan, cara khas Aceh menyambut tamu istimewa

Ranub Lampuan, cara khas Aceh menyambut tamu istimewa

BISNIS ACEH
Senin, 16 Juni 2014 16:20 WIB

[Foto : viva]">Foto : vivaTari Ranup Lampuan

BANDA ACEH - Terik matahari berada di atas 31 derajat celcius. Genangan air sisa hujan masih tergenang memenuhi hamparan tanah yang becek. Ratusan remaja memenuhi hamparan tersebut. Mereka berlari, meliuk-liukkan badan mereka dan tersenyum.

Cuaca saat itu tak menyurutkan semangat 250 siswa-siswi Sekolah Menengah Atas yang sedang memberikan penampilan terbaik untuk menyambut ribuan tamu yang hadir pada acara Pekan Olah Raga Aceh (PORA) di Aceh Timur, Aceh, baru-baru ini.

Ratusan penari itu tengah menampilkan tarian khas Aceh untuk menyambut dan memuliakan tamu. Namanya tari ranub lampuan. Ranub lampuan salah satu tarian khas Aceh, selain tari saman yang telah dikenal dan telah menjadi warisan dunia.

Gerakan demi gerakan, ranup lampuan menggambarkan prosesi memetik, membungkus, dan menghidangkan sirih kepada tamu yang dihormati. Hal tersebut merupakan kebiasaan masyarakat Aceh yang selalu menghidangkan sirih kepada para tamu.

Selain sering dimainkan pada saat upacara pembukaan acara-acara besar seperti sebuah even perlombaan, tari Ranub Lampuan juga sering digunakan menyambut kedatangan tamu-tamu terhormat yang berkunjung ke Aceh.

Budayawan Aceh, Tengku Yusdedi mengatakan, tari Ranub Lampuan merupakan warisan nenek moyang Aceh yang telah digunakan sejak dahulu untuk menyambut dan memuliakan tamu. Menurutnya, Ranub Lampuan merupakan ciri khas Aceh dalam menyambut tamu istimewa.

“Ini sudah menjadi ciri khas kita sejak dulu apabila ada tamu ataupun acara-acara tertentu, pasti disambut dengan tari Ranub Lampuan. Tari itu disebut tari peumulia jamee (memuliakan tamu),” ujar Yusdedi, yang juga Ketua Majelis Adat Aceh (MAA) Kota Lhokseumawe.

Ia menambahkan, seni tari tersebut memang sudah melekat sangat kuat dan sudah mendarah daging dalam sejarah adat dan budaya masyarakat Aceh. “Memang sudah sejak lama, kalau tidak ditampilkan bagai sayur tanpa garam,” katanya sambil tersenyum.

Selain tari ranub lampuan, biasanya para tamu juga disuguhkan sejumlah tarian lainnya yang memiliki makna tersendiri. Tarian-tarian tersebut ditampilkan untuk menggambarkan daerah serta kehidupan bermasyarakat di daerah tersebut.

“Selain menggambarkan sikap orang Aceh yang sangat menghargai orang lain, tarian ini juga dipadu dengan gerakan-gerakan yang mencirikan daerah Aceh, juga untuk memperkenalkan kekhususan daerah itu,” tutur Yusdedi lagi.

Salah satu contoh adalah seni tari tarek pukat. Ini merupakan seni tari yang ditampilkan oleh para penari sejumlah daerah di Aceh yang berada di wilayah pesisir. Tarek Pukat sendiri berarti menarik jala ikan dari pinggir laut. Tarian ini ingin menjelaskan aktivitas kehidupan masyarakat di daerah tersebut yang sehari-harinya merupakan nelayan.

Meski ditampilkan untuk para tamu yang hadir, tarian massal tersebut  juga dikerumuni warga sekitar yang ingin menikmati pertunjukan. Perpaduan alat musik tradisonal dan syair-syair Aceh yang sarat dengan syiar menjadikan seni tari Ranub Lampuan dan tari tradisonal lainnya tersebut menjadi semakin asik.

Seni tari dengan tiga unsur etnis, Aceh, Melayu, dan Gayo ini menghipnotis ribuan pasang mata. Matahari yang menyengat seolah kalah dengan penampilan menghibur dari ratusan para penari yang lincah dan apik serta semangat.




Sumber : viva



Redaksi:
Informasi pemasangan iklan
Hubungi: Marketing (0823 6230 8352)


Komentar Anda
Close